Putri Duyung

Derita Putri Duyung

Konon putri duyung itu bernama Ariel. Ia adalah putra Dewa Laut bernama Triton.

Berbeda dengan para penghuni istana bawah laut. Ariel lebih suka bermain-main di atas permukaan laut atau di pulau-pulau kosong. Sementara para
penghuni istana bawah laut lebih suka tinggal di dasar samudra.

Begitu seringnya Ariel ke permukaan laut sehingga ayahnya si dewa laut memperingatkannya.

"Ariel, kau jangan sering-sering ke permukaan laut."

"Memangnya kenapa ayah?" tanya Ariel.

"Jangan-jangan kau nanti bertemu manusia..." jawab dewa laut.

"Ayah, apa dan siapa manusia itu?"

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Perpisahan Yang Tak di Duga


“Mengapa kita dipertemukan jika akhirnya kita harus dipisahkan?”
Benar kata orang bahwa bumi tidak pernah berhenti berputar. Begitu juga ini terjadi pada kehidupan kadang kita berada diatas dan kadang kita berada dibawah. Kadang kita merasakan kebahagiaan dan kadang kita merasakan kesedihan.
Rina dan yudi adalah sepasang kekasih, mereka sudah menjalin hubungan selama 6 bulan. Namun akhir-akhir ini hubungan
mereka tidak seperti dulu. Rina merasakan ada yang berbeda pada yudi. Rina mengajak yudi untuk bertemu malam hari di sebuah cafe.
“Yud, kamu kenapa akhir-akhir ini berubah?” Tanya rina
“maaf rin, aku merasa kita sudah tidak cocok, Aku ingin kita mengakhiri hubungan ini” jawab yudi tegas
“loh? Kenapa?” jawab rina sambil mengeluarkan air mata
“Maafkan aku rin” jawab yudi dengan tegas.
Lalu rina pun pergi meninggalkan yudi dengan rasa kecewa dan sedih.
HARI BERIKUTNYA

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Mawar Putih


Aku duduk di taman sekolah. Aku sedang memandang sebuah bunga yang sedari tadi menarik perhatianku.
Bunga mawar, berwarna putih. Bunga kesukaan aku ini mengingatkan aku pada seseorang.
Tiba-tiba seseorang mengagetkanku.
“DOR!! Hayooo ngelamunin apa?” goda Hian, mencolek bahuku.
“Hehe… siapa lagi kalo bukan Kak Putra,” jawabku cengengesan.
“Ya elah, lupain ajalah, dia udah tenang di sana…” Hian memandang ke atas.
“Emang ada apa di atas?” tanyaku, sok polos.
“Ada awan, ada burung, ada pesawat, ada Kak Putra lagi liat kita” Hian mencoba menghiburku.
“Hahaha! Bisa aja lo An,” aku memandang bunga itu lagi.
KRIIINGGGG!!
Bel masuk telah berbunyi. Aku mencoba menghilangkan tentang Kak Putra dari benakku, yang penuh dengan masalah tugas sekolah.
“Udah bel, yuk ke kelas,” Hian menarik tanganku.
“Iya,” aku masih memikirkan sesuatu.
“Na, lo kalo kangen, entar kita ke tempat dia,” Hian mengerti apa yang aku rasakan.
“Iya, Hian. Makasih perhatiannya,” aku mencoba tersenyum.
Fiuh! Aku hampir saja menangis, hanya gara-gara kakak kelas SMP aku dulu. Kalau dulu aku tidak kenal dia, mungkin sampai detik sekarang aku tak akan pernah memikirkan tentang dia.
Selama pelajaran berlangsung, aku terus memikirkan kejadian yang terjadi tiga bulan lalu. Aku masih trauma akan kejadian itu. Dan aku masih memikirkan itu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tiga Sore Yang Dungu


Suara ombak terus memukul telinga. Tampak menghantam karang lalu pecah menjadi bulir-bulir udara, sebagian menerpa wajahku, membuat basah. Mungkin sebasah hatiku yang sedang digelayuti rasa tak tentu. Angin terus menghempas, kaki-kakiku yang kuselonjorkan ke karang-karang kecil juga terlihat mulai dingin dan pucat karena basah. Kapal-kapal melintas dengan sirine yang memekakkan telinga laut sore ini. Camar tak henti menjadi lukisan langit yang mulai keluar warna jingganya, berarak turun-naik membentuk formasi yang kerap berubah lalu hilang di sebelah timur yang daratan ini kemudian terlihat seperti sabit.
Ingatanku mulai bercengkrama. Benar-benar di luar dugaku. Tadi malam ia menghubungiku. Setelah perpisahan kami yang lama. Setelah ketika itu, semua menjadi pecah bagiku, berserak dan seperti tak mungkin lagi bisa menjadi utuh kembali. Ia mengajakku bertemu di sini, sore ini. Tempat yang berapa bulan yang lalu ia pilih untuk memutuskan rantai-rantai perasaanku dan membuatnya tak bisa di sambung kembali. Ucapnya waktu itu begitu menyayat hati sehingga aku merasa terbuang seperti dermaga ini.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Crazy Boys


“Oi Hayato apa kau tidak bosan begini terus”
“huh? Apa maksudmu Kiota?
”maksudku, apa kau tidak ada bosannya berkelahi terus?”
”huh, mereka yang memulai duluan”
”tapi kau tidak harus meladeni mereka juga kan?”
”huh, aku bingung, sebenarnya kau ini di pihak mana sih”
”ya pastinya di pihakmu lah, aku kan temanmu”
”huh, jika kau dipihakku, diam dan lihat saja, jangan banyak komentar, kau sudah seperti ibu mertuaku saja”
Itulah temanku Hayato, dia selalu mendapat masalah di sekolah, tidak itu dari pihak sekolah ataupun dari teman-temanya sendiri. Hayato memang sangat ahli dalam berkelahi, Hayato sudah sangat terkenal di kalangan para preman, orang-orang menjulukinya dengan sebutan si bocah elang, mereka menyebutnya begitu karena tatapan Hayato yang sangat menyeramkan, selayaknya seperti tatapan elang. Aku sudah lama berteman dengan Hayato, Hayato sudah sangat mempercayai ku sebagai

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Bidadari Tak Baersayap


‘Koridor itu, mempertemukan aku dengannya, sesosok bidadari cantik yang mungkin sengaja turun ke bumi’
Masih jelas ku ingat saat pertama kali kami bertemu. Di sebuah koridor gelap, dan masih sepi. Ia terduduk sendiri di bangku panjang dekat Ruang Guru. Dari arah gerbang, aku memperhatikannya. Oh ya, ternyata dia murid baru yang sudah sejak satu minggu yang lalu kabarnya santer terdengar.
Aku tetap melangkah dengan mata yang licin bergerak melirik kearahnya saat aku melintas dihadapan gadis itu. Namun sama sekali ia tak melihat kearahku. Ia terpaku pada sebuah kumpulan kertas dalam bentuk buku yang cukup tebal yang ia bawa, mungkin ia hobi membaca novel. Sampai ku lihat sesosok pria berkumis mengenakan jas hitam dan sepatu mengkilap mendatanginya. Ya, aku sengaja duduk di bangku dengan jarak kurang lebih 3 meter dari gadis itu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS



‘Koridor itu, mempertemukan aku dengannya, sesosok bidadari cantik yang mungkin sengaja turun ke bumi’
Masih jelas ku ingat saat pertama kali kami bertemu. Di sebuah koridor gelap, dan masih sepi. Ia terduduk sendiri di bangku panjang dekat Ruang Guru. Dari arah gerbang, aku memperhatikannya. Oh ya, ternyata dia murid baru yang sudah sejak satu minggu yang lalu kabarnya santer terdengar.
Aku tetap melangkah dengan mata yang licin bergerak melirik kearahnya saat aku melintas dihadapan gadis itu. Namun sama sekali ia tak melihat kearahku. Ia terpaku pada sebuah kumpulan kertas dalam bentuk buku yang cukup tebal yang ia bawa, mungkin ia hobi membaca novel. Sampai ku lihat sesosok pria berkumis mengenakan jas hitam dan sepatu mengkilap mendatanginya. Ya, aku sengaja duduk di bangku dengan jarak kurang lebih 3 meter dari gadis itu.
Terlihat pria itu sedang menanyakan sesuatu. Aku mencoba sedikit menguping pembicaraan mereka. Tapi tak lama, gadis itu beranjak dari duduknya dan bergegas melangkah. Sedangkan (mungkin) ayahnya -pria berkumis tadi- meninggalkan koridor ini.
Hey! Ia melewatiku!
Cantik. Itu kesan pertama saat aku melihatnya. Beruntungnya aku bisa melihat tag name yang ia kenakan.
“Raisa Lesmana” eja ku lirih. Gadis itu berhenti sejenak, lalu menoleh ke arahku. Helaian rambut panjangnya terkibas pelan. Hhh.. Sungguh sempurna bak bidadari yang turun ke bumi, atau mungkin bidadari yang tersesat di bumi.
“ya?” ah, sial! Dia mendengar bisikanku. Sejenak aku sedikit mengumpat di dalam hati. Bagaimana aku harus menyikapinya?
“hah.. emm, Tidak. Kau murid baru ya?” Semoga saja aku tidak terlihat salah tingkah.
“iya, kebetulan sekali aku bertemu denganmu. Maaf sebelumnya, bisakah kau antar aku ke ruang kepala sekolah? Aku belum begitu paham tentang sekolah ini.” Mimpi apa aku semalam?! Hingga kini dimintai tolong oleh sesosok bidadari cantik seperti dia.
“ah, ya tentu saja. Mari aku antar”
“terimakasih. Omong-omong, siapa namamu?” sembari kami berjalan lamban, ia membuka obrolan di antara kami berdua. Tentu saja aku menyambut pembukaan itu dengan senang hati.
“aku Elang Stevanditya. Bisa kau panggil El atau Elang.”
Obrolan kami berlarut. Tak disangka kami begitu cepat akrab. Hanya dalam hitungan menit, kami sudah saling mengenal dasar sebagian dari kehidupan kami.
—
‘Kau begitu mempesonaku, mengindahkan segala kekuranganmu di mataku’
Tiga bulan sudah kami bersama, dari mulai saling mengenal – berteman – hingga menjadi sepasang sahabat yang sering di anggap ‘Teman Tapi Mesra’ oleh orang-orang yang melihat kedekatan kami berdua.
Tak jarang kami sering menghabiskan waktu bersama. Makan siang, jalan-jalan, menemani nya hunting novel, belajar bersama. Yaa, semua hal itu sering kami lakukan hampir di setiap hari. Di sekolah pun kami sering digosipkan menjalin hubungan special . Tapi, kami tak terlalu memerhatikan hal itu.
Aku sudah menganggapnya sebagai adikku sendiri, begitu pula dengannya yang sudah memandangku seperti kakaknya. Namun, di lubuk hati ku yang terdalam, aku mengharapkan lebih dari sekedar ini. Lebih dari apa yang kami punya selama ini.
“El, kau tahu, aku ingin sekali mencoba hal yang dinamakan berlarian; berkejar-kejaran?” Tanya Raisa saat kami singgah di sebuah taman bermain dekat dengan komplek rumah nya. Pertanyaannya ini membuat sepintas kebingungan melintas di pikiranku ‘memangnya dia tidak pernah bermain kejar-kejaran? Atau hanya untuk sekedar berlarian?’
“Hey! Aku sedang bertanya El.. Bisakah kau menjawab pertanyaanku, agar aku tak terlihat gila karna ternyata sedari tadi aku bicara sendiri? Huhh” lanjutnya, aku melihat ia sedikit memajukan bibir tipisnya. Kalau boleh jujur, dia tampak sangat lucu sekali apabila ekspresinya sedang kesal.
“Eh, maaf. Emm, kau ini aneh ya. Seperti tidak pernah merasakan berlari saja” aku hanya menunjukkan kesan yang bisa di bilang heran.
“Ya, aku memang tak pernah ditakdirkan untuk bebas berlari. Sekalipun berlari, itu hanya berlari kecil saja, bukan berkejar-kejaran seperti mereka” mata indahnya melirik anak-anak kecil yang sedari tadi bermain kejar-kejaran mengelilingi bangku taman di sebelah kami. Namun setelah itu, matanya terlihat berkaca.
“Kenapa kau ber-argumen seperti itu? Semua orang bebas untuk berlari. Bahkan jika mereka ingin berlari lalu terjun ke dalam jurang yang curam pun mereka bebas melakukannya. Tak ada larangan secara hukum.”
“Tapi tidak untukku. Aku ditakdirkan terlahir berbeda dengan kau, dengan mereka – anak-anak kecil itu -. Jantungku amatlah lemah, itulah sebabnya aku sama sekali tidak mengikuti hampir seluruh kegiatan ekstrakulikuler dan olahraga berat di sekolah. Aku tak boleh kelelahan, tak boleh terkena angin malam. Tapi aku ingin merasakan semua itu, semua yang pernah kau rasa, semua yang pernah mereka rasa, semua yang belum bahkan mungkin tidak akan pernah ku rasa.” Aku mengusap lembut airmatanya yang jatuh bebas ke tanah di akhir pembicaraannya
“Maaf, aku sama sekali tak bermaksud membuatmu seperti ini. Maafkan aku Raisa..” ia hanya mengangguk pelan. Aku mencoba mendekapnya. Aku tahu, ini yang ia butuhkan sekarang. Ku dengar suaranya yang terisak pelan dalam dekapanku.
“Apa kau menyesal telah terlahir seperti ini, Raisa?” lagi-lagi ia hanya mengandalkan sebuah anggukan sebagai jawaban atas pertanyaanku.
“Bagaimana jika kau ikut aku sekarang? Aku yakin, kau akan merasa senang datang ke tempat yang akan kita tuju.” Aku mencoba menghiburnya dengan mengajaknya pergi ke sebuah tempat yang sudah tiga minggu ini tidak aku kunjungi.
“Kemana?” Tanyanya. Suaranya terdengar sedikit serak.
“Akan aku beri tahu, asalkan kau mau tersenyum dulu sebelum kita pergi” dia terdiam sejenak.
“Ayo, mana senyumnya?” lanjutku. Tak berapa lama, ia tersenyum. Aku merasa puas sekali setelah melihatnya tersenyum seperti ini.
“Nah, jika kau tersenyum seperti itu, bidadari-bidadari di kahyangan pasti iri melihat manis senyummu.”
“Ah, kau ini El.. selalu saja berhasil menjebol pertahanan senyumku” dia memang begitu cantik. Dan dia selalu mampu membuatku terpesona.
—
Sesampainya disana, aku mengajak Raisa mengelilingi tempat tersebut.
“nah, ini tempatnya. Aku sering kesini sendiri, atau biasanya bersama Aldy dan Denas -sahabat-sahabatku yang lain-.”
“semacam panti asuhan ya?”
“iya, bisa di bilang seperti itu. Tapi hebatnya, disini bukan panti asuhan biasa. Kebanyakan dari mereka -anak-anak di panti ini- terlahir tidak sempurna.”
“seperti aku?” sepertinya kesedihannya mulai berkurang
“iya, bahkan ada yang lebih parah darimu. Tapi mereka punya semangat hidup yang sangat tinggi. Meskipun mereka tau, sakit yang mendera tubuh kecil mereka tak bisa disembuhkan.” Aku melirik ke arahnya, aku lihat dia tengah berpikir keras
“maka dari itu, aku mengajakmu kemari. Agar kamu tahu, hidup memang tidak pernah bisa sempurna seperti yang kita inginkan. Tapi kita harus selalu bisa membuat semua yang ada di hidup ini sempurna. Dengan rasa syukur dan berusaha. Hanya itu kuncinya.” Lanjutku.
“terimakasih El, hanya kamu yang bisa membuatku semangat menjalani hidup dan untuk selalu tersenyum” ia memelukku erat
Aku melepas pelukannya.
“Emm, sebaiknya, kita segera menemui ibu panti. Kurasa hari mulai gelap, aku takut angin malam mengusikmu nanti” ia hanya tersenyum. Aku menggandeng tangan kanannya. Lalu membawanya bersamaku menuju ke ruang pemilik panti ini.
‘Raisa, seandainya kamu tahu, ada tidaknya penyakit di tubuhmu itu, tak akan pernah bisa menghilangkan barang sejengkal pun kesempurnaanmu di mataku’
—
‘Seandainya kau bisa mengerti akan rasaku padamu..’
“selamat pagi Nona Raisa…” itu hanya satu dari sekian kata yang sering kuucapkan padanya saat memasuki kelas. Ia tersenyum, tapi tak terlihat seperti biasanya. Ada apa dengan dia? Sakit kah?
“kau sakit ya? Tak terlihat seperti biasanya” aku segera menghampirinya, lalu dengan cepat tanganku mendarat di dahinya.
“badanmu tidak panas, tapi..” ia menyingkirkan tanganku dari dahinya.
“karena aku memang tidak sedang sakit Elaaang. Aku biasa-biasa saja kok” ucapnya meyakinkan ku. Tapi tetap saja aku tak bisa ia bohongi dengan mudahnya.
“jika ada masalah, aku mau mendengarkan keluhanmu. Walaupun belum tentu aku bisa membantumu mencari jalan keluar, setidaknya aku bisa menjadi pendengar setia bagimu.” Aku duduk di sampingnya. Berharap ia mau menceritakan sesuatu.
“Mike, dia mengutarakan perasaannya padaku semalam. Ia datang kerumahku, dan langsung meminta izin untuk menjagaku pada ayahku. Tentu saja ayahku setuju, bahkan oma pun ikut setuju.”
JDERRR!!!
‘Mike? Anak tengil itu? Mengutarakan perasaannya pada Raisa? Semalam? Ayah dan oma Raisa setuju?’ rentetan pertanyaan itu secara tiba-tiba muncul di otakku. Aku tengah berpikir, mataku terpejam sejenak, berharap saat ku buka kembali, ini semua hanyalah sebuah mimpi buruk yang tak akan pernah jadi kenyataan. Tapi..
“Elang? Kau masih jadi pendengar setiaku seperti ucapanmu barusan kan?” ia menepuk pundak kanan ku. Lalu terhitung 1, 2, 3..
Ku buka perlahan mataku, dan sial! Ini semua memang kenyataan!
“ah, ya tentu saja. Lalu kau menerimanya?”
‘semoga tidak.. semoga tidak.. semoga tidak..’ diam-diam aku menjerit di dalam hati. Semoga saja Raisa tidak menerima anak tengil itu sebagai penghuni hatinya. Mau jadi apa dia kalau punya kekasih seperti Mike yang tengil, sombong, bahkan banyak anak di sekolah ini yang tak suka pada sifatnya. Bisa-bisa Raisa terkena stroke dadakan!
“belum. Aku belum menjawabnya. Aku bimbang El. Jika aku menolaknya, aku tahu ayah dan oma pasti akan merasa kecewa padaku. Tapi jika aku menerimanya, aku tak suka padanya, aku tak sedikitpun bisa merasakan sayang yang tulus dari dirinya” mukanya ia tekuk dalam-dalam. Yap! Setidaknya peluang untuk Mike di tolak Raisa ada.
“bagaimana menurutmu El?” ia memalingkan wajahnya ke arahku.
“menurutku… mungkin kau harus ikuti kata hati dan pikiranmu”
“Elang Stevanditya, kata hati dan pikiran itu, keduanya tak selalu sejalan. Ada kalanya mereka bertentangan. Seperti aku sekarang” mimik wajahnya memang terlihat bingung. Aku jadi kasihan padanya.
“kau kan bisa menjelaskan sikap Mike di sekolah pada ayah dan oma mu. Mungkin dengan begitu, ayah dan oma mu akan mengerti perasaanmu.”
“itu jika mereka bisa percaya. Jika tidak? Apa aku harus memaksa mereka supaya mempercayai kata-kata ku?”
“ya tidak begitu maksudku” aku mencoba berpikir keras, bagaimana caranya agar Raisa tak bersatu dengan anak tengil itu. Sungguh demi apapun aku tak rela. Sekalipun aku jatuh cinta padanya, aku tak rela melepaskannya pada lelaki semacam Mike. Sangat tidak rela!
“apa aku harus menerimanya? Tak mungkin juga jika aku harus menentang ucapan ayah. Itu akan membuat beliau kecewa. Huhh, mungkin ini memang sudah menjadi bagian dari takdirku. Harus menjalani sebuah hubungan yang sama sekali tak pernah ku harapkan. Bahkan untuk sekedar membayangkannya pun aku tak mau.”
Ya Tuhan..
Apa yang kurang dari ku Raisa? Apa? Katakanlah!!
Apa sikapku padamu selama ini sama sekali tak kau tangkap sebagai sebuah sinyal cinta, Raisa? Aku harus bersikap bagaimana agar kau tahu perasaan ini? Agar kau merasakan apa yang selama ini aku rasa, Raisa?
—
‘Mungkin sudah takdirnya kita tak bersama, tapi jangan tinggalkan aku..’
Hampir 5 bulan sudah hubungan mereka terjalin. Meskipun aku tahu, bagaimana rasanya menjadi Raisa yang harus berpura-pura mencintai Mike. Tapi aku tak berhak angkat bicara masalah apapun pada mereka.
“jujur aku lelah. Aku sudah lelah El, menjalani semua kebohongan ini” ia menyandarkan kepalanya ke pundakku. Ia sedang sakit, (mungkin) hanya sakit biasa. Karena jika aku tanya tentang sakitnya kali ini, ia hanya tersenyum sembari menjawab ‘aku baik-baik saja, percayalah’
“mengapa kau tak mengakhiri semuanya saja? Toh, kau lah pemegang kuncinya” aku berbicara sangat hati-hati. Takut-takut ia tersinggung atau kecewa atas perakataanku tadi
“ya, memang aku akan mengakhiri semua ini. Aku sudah terlampau lelah El..” ia mengangkat kepalanya dari pundakku, lalu menoleh ke arahku yang sedikit bingung, kaget, tak percaya, dan cukup senang ku akui.
“tapi apa alasan yang akan kau berikan pada ayahmu nanti Sa?”
“aku akan menjadikan kepindahanku ke Singapore sebagai alasannya. Aku yakin, ayah kali ini mau mengerti aku” ia nampak tersenyum, mungkin tengah membayangkan kebebasannya nanti.
Tapi tunggu! Kepindahan? Singapore?
“maksudmu, kau akan pindah ke Singapore?” aku berbalik menatap wajahnya, hanya bisa berharap semua ini hanya omong kosong dari salah satu kejahilannya. Terkecuali niatnya mengakhiri hubungannya dengan Mike.
“iya El, maaf ya aku baru mengabarimu sekarang. Aku akan pindah Senin lusa. Menunggu ayah selesai mengurus surat kepindahanku.”
“tapi Sa..”
“aku akan menjalani serangkaian operasi disana. Menurut dokter Fransisca -dokter yang menangani Raisa sejak Raisa kecil- dengan menjalani operasi ini, jika berhasil aku bisa bertahan dengan jantung yang sudah cukup kuat. Bahkan beliau berkata, jika ini berhasil, aku boleh merasakan yang dinamakan berkejar-kejaran” ia tersenyum bahagia menjelaskannya.
Di satu sisi aku merasa senang, tapi di sisi lain, aku merasa kehilangan. Bagaimana nanti aku melewati hari-hariku tanpa sosoknya?
Ssfff..
Aku menarik nafas panjang untuk melontarkan kata-kata ini. Teramat berat bagiku untuk mengatakannya.
“aku.. aku.. aku turut bahagia atas kabar ini.” Huuufff, lega sekali rasanya bisa mengeluarkan gumpalan kata-kata sok tegar itu di hadapan Raisa.
“berapa lama kau akan menetap di sana?”
‘tentu saja lama. Pertanyaan bodoh!’ aku mengumpat diriku sendiri dalam hati
“cukup lama. Dokter Fransisca berkata semua ini butuh proses. Dan beliau memperkirakan aku harus menetap di sana setidaknya 4 – 5 tahun. Waktu yang cukup lama bukan?”
hah?! Yang benar saja? 4 – 5 tahun? Itu tandanya aku harus menunggunya selama itu? Err, belum sampai waktunya, sudah habis aku ditumbuhi lumut.
“jelas itu sangat lama, bukan hanya cukup lama Raisa.. 4 atau 5 tahun itu waktu yang sangatlah panjang.”
“hihi, kau kenapa? Tenang saja, aku pasti akan merindukanmu saat aku sudah di sana.” Di saat seperti ini, masih saja ia sanggup untuk terkikik
“bukan itu, tapi… Ahh” aku memeluknya erat. sedangkan ia masih saja terkikik. Dasar Raisa…!
“aku akan merindukanmu, bahkan sangat. Sayang, jarak antara Bandung dan Singapore tak bisa di tempuh hanya menggunakan sepeda motor saja. Jika bisa, aku pasti akan selalu mengunjungimu Sa. Membawakanmu bunga mawar putih kesukaanmu setiap pagi, membawakan makanan favoritmu, mem..” belum selesai aku bicara, ia sudah memotongnya.
“iya, iya.. aku mengerti, kau pasti akan sangat merindukanku, karena pada dasarnya aku memang ‘ngangenin’. haha” pelukanku kian mengerat.
Raisa, kenapa kau harus pergi? Tak sadarkah kau, di sini ada hati yang akan merasa sepi?
—
‘Tak berakhir sia-sia lama penantianku..’
“selamat datang putri Raisa..” ucapku menyambut kedatangan Raisa di rumahnya, bersama oma tentunya. Oma menunggu di dalam rumah, sedangkan ayah Raisa segera membawa barang bawaan mereka ke dalam
“Elang?! Kau.. ahh! Aku merindukanmu!” ia berlari lalu dengan segera memelukku erat. aku membalas pelukannya. Kemudian melepasnya
“kau terlihat lebih cantik Sa..” aku tak dapat menyembunyikan ke kagumanku pada Raisa kini. Tak banyak yang berubah memang dari dirinya. Namun tetap saja terlihat berbeda.
“kau berbeda sekarang ya! Ku rasa kau lebih tampan apabila rambutmu kau biarkan sedikit gondrong seperti itu” aku mencubit tanganku. Aww! Sakit! Ini bukan mimpi? Raisa berkata aku tampan? Huaaa, mimpi apa aku tadi malam.
“oh ya? Kau bisa saja. Bagaimana keadaanmu sekarang?”
“jauh dari kata kurang baik.” Ia tersenyum senang
“maksudmu, kau sudah sembuh?”
“tidak juga, tapi bisa dikatakan seperti itu, hampir.”
“syukurlah..”
Obrolan kami berlanjut, sembari kami melangkah pelan memasuki rumah Raisa untuk menemui omanya.
Di taman belakang rumah Raisa…
Setelah kami berdua mendapat izin untuk mengobrol di taman kecil di belakang rumah Raisa yang cukup luas ini, kami duduk di sebuah kursi panjang yang di sampingnya terdapat sebuah ayunan.
Aku sudah merencanakan ini sebelumnya, bahkan jauh-jauh hari sebelum Raisa pulang.
“Emm, Sa, aku ingin berbicara sesuatu padamu..” aku tahu bagaimana mimik wajahku sekarang. Terlihat kikuk pasti.
“tentang apa El?” ia menoleh ke arahku yang duduk di samping kanannya. Aku menghadap ke arahnya, menyodorkan se-bouqet bunga mawar putih kesukaannya.
“Raisa, aku tahu, cara ini sama sekali tak romantis. Tidak seperti yang ada pada novel-novel cinta yang pernah kau baca. Tapi, aku hanya ingin mengungkapkan sebuah kejujuran. Bahwa aku begitu menyayangimu, lebih dari sekedar sahabat. Lebih dari sayang seorang kakak kepada adiknya…” aku memotong ucapanku. Menarik nafas dalam-dalam.
“Raisa, would you be my girl?” huff.. semoga saja keringat hasil salting ku tak menetes. Memalukan jika sampai terjadi. Seperti tak pernah melakukan sebelumnya.
“Elang…”
“aku tahu aku sama sekali tak masuk dalam kriteria lelaki idamanmu, tapi aku hanya butuh sebuah jawaban Raisa… untuk itu, aku minta kau…” belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, Raisa sudah memotongnya
“sssttt..” ia meletakkan telunjuknya di bibirku. Membuatku berhenti bicara.
“aku juga menyayangimu Kak Elang..” aku sempat merasakan sesak yang cukup membuat dadaku sakit saat mendengar ia memanggilku dengan sebutan ‘Kak’
“aku menyayangimu, sebagai kakakku.. tapi juga lebih dari itu” ia tersenyum, lalu melepaskan telunjuknya yang tadi menempel di bibirku. Aku tersentak.
“apa itu artinya, kau…?”
“yes, I would!” jawabnya pasti. Refleks aku memeluknya sangat erat. ahh, Raisa.. jika Tuhan menciptakan Juliet untuk menjadi ratu di hati Romeo, lalu Tuhan menciptakan pula Nawang Wulan sebagai bidadari untuk Jaka Tarub, maka aku yakin, Tuhan juga menciptakanmu untuk menjadi sesosok bidadari penghuni hatiku. Bidadari yang tak bersayap…
~THE END

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS