Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Perpisahan Yang Tak di Duga


“Mengapa kita dipertemukan jika akhirnya kita harus dipisahkan?”
Benar kata orang bahwa bumi tidak pernah berhenti berputar. Begitu juga ini terjadi pada kehidupan kadang kita berada diatas dan kadang kita berada dibawah. Kadang kita merasakan kebahagiaan dan kadang kita merasakan kesedihan.
Rina dan yudi adalah sepasang kekasih, mereka sudah menjalin hubungan selama 6 bulan. Namun akhir-akhir ini hubungan
mereka tidak seperti dulu. Rina merasakan ada yang berbeda pada yudi. Rina mengajak yudi untuk bertemu malam hari di sebuah cafe.
“Yud, kamu kenapa akhir-akhir ini berubah?” Tanya rina
“maaf rin, aku merasa kita sudah tidak cocok, Aku ingin kita mengakhiri hubungan ini” jawab yudi tegas
“loh? Kenapa?” jawab rina sambil mengeluarkan air mata
“Maafkan aku rin” jawab yudi dengan tegas.
Lalu rina pun pergi meninggalkan yudi dengan rasa kecewa dan sedih.
HARI BERIKUTNYA

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Mawar Putih


Aku duduk di taman sekolah. Aku sedang memandang sebuah bunga yang sedari tadi menarik perhatianku.
Bunga mawar, berwarna putih. Bunga kesukaan aku ini mengingatkan aku pada seseorang.
Tiba-tiba seseorang mengagetkanku.
“DOR!! Hayooo ngelamunin apa?” goda Hian, mencolek bahuku.
“Hehe… siapa lagi kalo bukan Kak Putra,” jawabku cengengesan.
“Ya elah, lupain ajalah, dia udah tenang di sana…” Hian memandang ke atas.
“Emang ada apa di atas?” tanyaku, sok polos.
“Ada awan, ada burung, ada pesawat, ada Kak Putra lagi liat kita” Hian mencoba menghiburku.
“Hahaha! Bisa aja lo An,” aku memandang bunga itu lagi.
KRIIINGGGG!!
Bel masuk telah berbunyi. Aku mencoba menghilangkan tentang Kak Putra dari benakku, yang penuh dengan masalah tugas sekolah.
“Udah bel, yuk ke kelas,” Hian menarik tanganku.
“Iya,” aku masih memikirkan sesuatu.
“Na, lo kalo kangen, entar kita ke tempat dia,” Hian mengerti apa yang aku rasakan.
“Iya, Hian. Makasih perhatiannya,” aku mencoba tersenyum.
Fiuh! Aku hampir saja menangis, hanya gara-gara kakak kelas SMP aku dulu. Kalau dulu aku tidak kenal dia, mungkin sampai detik sekarang aku tak akan pernah memikirkan tentang dia.
Selama pelajaran berlangsung, aku terus memikirkan kejadian yang terjadi tiga bulan lalu. Aku masih trauma akan kejadian itu. Dan aku masih memikirkan itu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tiga Sore Yang Dungu


Suara ombak terus memukul telinga. Tampak menghantam karang lalu pecah menjadi bulir-bulir udara, sebagian menerpa wajahku, membuat basah. Mungkin sebasah hatiku yang sedang digelayuti rasa tak tentu. Angin terus menghempas, kaki-kakiku yang kuselonjorkan ke karang-karang kecil juga terlihat mulai dingin dan pucat karena basah. Kapal-kapal melintas dengan sirine yang memekakkan telinga laut sore ini. Camar tak henti menjadi lukisan langit yang mulai keluar warna jingganya, berarak turun-naik membentuk formasi yang kerap berubah lalu hilang di sebelah timur yang daratan ini kemudian terlihat seperti sabit.
Ingatanku mulai bercengkrama. Benar-benar di luar dugaku. Tadi malam ia menghubungiku. Setelah perpisahan kami yang lama. Setelah ketika itu, semua menjadi pecah bagiku, berserak dan seperti tak mungkin lagi bisa menjadi utuh kembali. Ia mengajakku bertemu di sini, sore ini. Tempat yang berapa bulan yang lalu ia pilih untuk memutuskan rantai-rantai perasaanku dan membuatnya tak bisa di sambung kembali. Ucapnya waktu itu begitu menyayat hati sehingga aku merasa terbuang seperti dermaga ini.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Crazy Boys


“Oi Hayato apa kau tidak bosan begini terus”
“huh? Apa maksudmu Kiota?
”maksudku, apa kau tidak ada bosannya berkelahi terus?”
”huh, mereka yang memulai duluan”
”tapi kau tidak harus meladeni mereka juga kan?”
”huh, aku bingung, sebenarnya kau ini di pihak mana sih”
”ya pastinya di pihakmu lah, aku kan temanmu”
”huh, jika kau dipihakku, diam dan lihat saja, jangan banyak komentar, kau sudah seperti ibu mertuaku saja”
Itulah temanku Hayato, dia selalu mendapat masalah di sekolah, tidak itu dari pihak sekolah ataupun dari teman-temanya sendiri. Hayato memang sangat ahli dalam berkelahi, Hayato sudah sangat terkenal di kalangan para preman, orang-orang menjulukinya dengan sebutan si bocah elang, mereka menyebutnya begitu karena tatapan Hayato yang sangat menyeramkan, selayaknya seperti tatapan elang. Aku sudah lama berteman dengan Hayato, Hayato sudah sangat mempercayai ku sebagai

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Bidadari Tak Baersayap


‘Koridor itu, mempertemukan aku dengannya, sesosok bidadari cantik yang mungkin sengaja turun ke bumi’
Masih jelas ku ingat saat pertama kali kami bertemu. Di sebuah koridor gelap, dan masih sepi. Ia terduduk sendiri di bangku panjang dekat Ruang Guru. Dari arah gerbang, aku memperhatikannya. Oh ya, ternyata dia murid baru yang sudah sejak satu minggu yang lalu kabarnya santer terdengar.
Aku tetap melangkah dengan mata yang licin bergerak melirik kearahnya saat aku melintas dihadapan gadis itu. Namun sama sekali ia tak melihat kearahku. Ia terpaku pada sebuah kumpulan kertas dalam bentuk buku yang cukup tebal yang ia bawa, mungkin ia hobi membaca novel. Sampai ku lihat sesosok pria berkumis mengenakan jas hitam dan sepatu mengkilap mendatanginya. Ya, aku sengaja duduk di bangku dengan jarak kurang lebih 3 meter dari gadis itu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS