Pada abad ke-16 berlayarlah bangsa-bangsa Eropa ke wilayah Timur.
Diantaranya adalah Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda. Tujuan
mereka mencari rempah-rempah. Selain itu mereka juga menyebarkan
agama Kristen. Dari pelayaran tersebut sampailah mereka ke Nusantara.
Setelah sampai di Nusantara timbullah keserakahan mereka. Semula mereka
hanya berdagang kemudian mereka ingin menguasai Nusantara. Diantara
mereka yang paling lama menguasai dan menjajah Indonesia adalah bangsa
Belanda. Kita akan mempelajari sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam
membebaskan dirinya dari belenggu penjajahan. Bagaimana para pemuda
bangsa terketuk hatinya untuk mengadakan gerakan nasional. Peranan para
pemuda yang sangat besar sehingga lahir sumpah pemuda. Bagaimana kalian
meneladani jejaknya? kalian akan bangga bukan? Tentunya kita harus
bangga pada tokoh pejuang bangsa kita.
A. Penjajahan Belanda di Indonesia
Sebelum mempelajari materi yang baru, adakah di antara kalian yang
belum memahami materi yang lalu? Sekarang marilah kita pelajari tentang
perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Belanda dan Jepang.
Untuk mengawali, perhatikan penjelasan tentang kedatangan penjajah
Belanda di Indonesia. Tahun 1596 Belanda di bawah pimpinan Cornelis de
Houtman, pertama kali mendarat di Banten. Tahun 1602 Belanda mendirikan
kongsi dagang VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie ) di Batavia untuk
memperkuat kedudukannya. VOC mempunyai hak istimewa disebut Octroi.
Gubernur Jendral VOC pertama Pieter Both, kemudian digantikan J. P.
Coen.
VOC ingin menguasai pusat-pusat perdagangan, seperti Batavia,
Banten, Selat Sunda, Makasar, Maluku, Mataram (Jawa), dan berbagai
daerah strategis lain. Belanda dapat menguasai Nusantara karena politik
kejam mereka yaitu politik adu domba. Belanda mengadu domba raja-raja di
daerah sehingga mereka terhasut dan terjadilah perang saudara dan
perebutan tahta kerajaan. Belanda membantu pemberontakan dengan meminta
imbalan daerah kekuasaan dagang (monopoli perdagangan). Akhir abad ke-18
VOC bangkrut dan dibubarkan tanggal 31 Desember 1799. Indonesia
diperintah oleh Kolonial Belanda dengan gubernur jendral pertama
Daendels yang sangat kejam. Rakyat dipaksa kerja rodi membuat jalan
sepanjang 1.000 km (dari Anyer–Panarukan), mendirikan pabrik senjata di
Semarang dan Surabaya juga membangun Pelabuhan Merak. Daendels
digantikan Jansens yang kemudian dikalahkan Inggris. Tahun 1816
Indonesia dikembalikan ke Belanda, dengan Van den Bosch sebagai
gubernur. Ia menerapkan politik tanam paksa. Tujuannya untuk mengisi kas
Belanda yang kosong.Tanam paksa menyengsarakan rakyat, selain rakyat
dipaksa menanam 1/5 tanahnya dengan ketentuan Belanda, mereka juga
dipaksa membayar pajak dan ganti rugi tanaman.
1. Sultan Agung Hanyakrakusuma dari Mataram (Tahun 1628 dan Tahun 1629)
Raden Mas Rangsang menggantikan Raden Ma Martapura dengan gelar
Sultan Agung Senapati Ing Alogo Ngabdurrachman. Ia adalah Raja Mataram
yang memakai gelar Sultan, sehingga lebih dikenal dengan sebutan Sultan
Agung. Sultan Agung memerintah Mataram dari tahun 1613–1645. Di bawah
pemerintahannya, Kerajaan Mataram mencapai kejayaan. Dalam memerintah
kerajaan, ia bertujuan mempertahankan seluruh tanah Jawa dan mengusir
Belanda dari Batavia.
Pada masa pemerintahannya, Mataram menyerang ke Batavia dua kali
(tahun 1628 dan tahun 1629), namun gagal. Dengan kegagalan tersebut,
membuat Sultan Agung makin memperketat penjagaan daerah perbatasan yang
dekat Batavia, sehingga Belanda sulit menembus Mataram. Sultan Agung
wafat pada tahun 1645 dan digantikan putranya bergelar Amangkurat I.
2. Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten (1650–1682)
Sultan Ageng Tirtayasa memerintah Banten dari tahun 1650–1692. Di
bawah pemerintahannya, Kerajaan Banten mengalami masa kejayaan. Ia
berusaha memperluas kerajaannya dan dan mengusir Belanda dari Batavia.
Banten mendukung perlawanan Mataram terhadap Belanda di Batavia. Sultan
Ageng Tirtayasa memajukan aktivitas perdagangan agar dapat bersaing
dengan Belanda. Selain itu juga memerintahkan pasukan kerajaan Banten
untuk mengadakan perlawanan terhadap Belanda di Batavia. Kemudian
mengadakan perusakan perkebunan tebu milik Belanda di Ciangke.
Menghadapi gerakan tersebut membuat Belanda kewalahan. Pada tahun 1671
Sultan Ageng Tirtayasa mengangkat putra mahkota menjadi raja pembantu
dengan gelar Sultan Abdul Kahar (Sultan Haji). Sejak saat itu Sultan
Ageng Tirtayasa beristirahat di Tirtayasa.
3. Sultan Hasanudin dari Makasar Sulawesi Selatan yang Mendapat
Julukan Ayam Jantan dari Timur Pada masa pemerintahan Sultan
Hasanudin, Kerajaan Makasar mencapai masa kejayaan. Cita-cita Sultan
Hasanudin untuk menguasai jalur perdagangan Nusantara mendorong
perluasan kekuasaan ke kepulauan Nusa Tenggara. Hal itu mendapat
tentangan Belanda. Pertentangan tersebut sering menimbulkan peperangan.
Keberanian Sultan Hasanudin dalam memimpin pasukan Kerajaan Makasar
mengakibatkan kedudukan Belanda semakin terdesak. Atas keberanian Sultan
Hasanudin, Belanda menjulukinya dengan sebutan “Ayam Jantan dari
Timur”.
4. Pattimura (Thomas Matulesi) dari Maluku
Pada tanggal 16 Mei 1817 Rakyat Maluku di bawah pimpinan Pattimura
(Thomas Matulesi) mengadakan penyerbuan ke pos Belanda dan berhasil
merebut benteng Duurstede. Dari Saparua perlawanan meluas ke tempat lain
seperti Seram, Haruku, Larike, dan Wakasihu. Hampir seluruh Maluku
melakukan perlawanan, sehingga Belanda merasa kewalahan. Pada tanggal 15
Oktober 1817, Belanda mulai mengadakan serangan besar-besaran. Pada
bulan November 1817 Thomas Matulesi berhasil ditangkap.
5. Imam Bonjol dari Sumatra Barat
Rakyat Minangkabau bersatu melawan Belanda. Terjadi pada tahun 1830–
1837. Perlawanan terhadap Belanda di bawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol.
Untuk mengatasi perlawanan rakyak Minangkabau, Belanda menerapkan siasat
adu domba. Dalam menerapkan siasat ini Belanda mengirimkan pasukan dari
Jawa di bawah pimpinan Sentot Prawiradirja. Ternyata Sentot beserta
pasukannya membatu kaum padri. Karena itu Sentot ditangkap dan
diasingkan ke Cianjur,Jawa Barat. Pada akhir tahun 1834, Belanda
memusatkan pasukannya menduduki kota Bonjol. Tanggal 16 Juni 1835,
pasukan Belanda menembaki Kota Bonjol dengan meriam. Dengan tembakan
meriam yang sangat gencar Belanda berhasil merebut Benteng Bonjol.
Akhirnya pada tanggal 25 Oktober 1837 Tuanku Imam Bonjol menyerah.
Dengan menyerahnya Tuanku Imam Bonjol berarti padamlah perlawanan rakyat
Minangkabau terhadap Belanda.
6. Diponegoro (Ontowiryo) dari Yogyakarta (1825 – 1830)
Pangeran Diponegoro dengan nama kecil Raden Mas Ontowiryo, putra
sulung Sultan Hamengkubowono III, lahir pada tahun 1785. Melihat
penderitaan rakyat, hatinya tergerak untuk memperjuangkannya. Perlawanan
Diponegoro pemicu utamanya adalah pemasangan tiang pancang membuat
jalan menuju Magelang. Pemasangannya melewati makam leluhur Diponegoro
yang dilakukan tanpa izin. Karena mendapat tentangan, pada tanggal 20
Juli 1825 Belanda melakukan serangan ke Tegalrejo. Namun dalam serangan
tersebut tidak berhasil menemukan Diponegoro, karena sebelumnya
Diponegoro telah memindahkan markasnya di Selarong. Dalam perlawanan
melawan Belanda Pangeran Diponegoro dibantu Pangeran Mangkubumi, Sentot
Pawirodirjo, Pangeran Suriatmojo, dan Dipokusumo. Bantuan dari ulama pun
ada, yaitu dari Kyai Mojo dan Kyai Kasan Basri
Untuk mematahkan perlawanan Diponegoro, Belanda melaksanakan
siasat Benteng Stelsel (sistem benteng). Dengan berbagai siasat,
akhirnya Belanda berhasil membujuk para pemimpin untuk menyerah. Melihat
hal itu, Pangeran Diponegoro merasa terpukul. Dalam perlawanannya
akhirnya Pangeran Diponegoro terbujuk untuk berunding. Dalam
perundingan, beliau ditangkap dan diasingkan ke Makasar sampai akhirnya
meninggal dunia pada tanggal 8 Januari 1855.
7. Pangeran Antasari dari Banjarmasin
Perlawanan rakyat Banjar dipimpin oleh Pangeran Hidayat dan Pangeran
Antasari. Perlawanan tersebut terkenal dengan Perang Banjar, berlangsung
dari tahun 1859–1863. Setelah Pangeran Hidayat ditangkap dan diasingkan
ke Cianjur, Jawa Barat perlawanan rakyat Banjar masih terus dilakukan
dipimpin oleh Pangeran Antasari. Atas keberhasilan memimpin perlawanan,
Pangeran Antasari diangkat sebagai pemimpin agama tertinggi dengan gelar
Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin. Beliau terus mengadakan
perlawanan sampai wafat tanggal 11 Oktober 1862.
8. Sisingamangaraja XII dari Tapanuli Sumatra Utara
Sisingamangaraja lahir di Baakara, Tapanuli pada 1849 dan menjadi
raja pada tahun 1867. Saat bertahta, ia sangat menentang penjajah dan
melakukan perlawanan, akibatnya ia dikejar-kejar oleh penjajah. Setelah
tiga tahun dikejar Belanda, akhirnya persembunyian Sisingamangaraja
diketahui dan dikepung ketat. Pada saat itu komandan pasukan Belanda
meminta kembali agar ia menyerah dan menjadi Sultan Batak, namun
Sisingamangaraja tetap menolak dan memilih mati daripada menyerah.
B. Pergerakan Nasional Indonesia
Pergerakan nasional adalah perjuangan yang mengikutsertakan seluruh
rakyat Indonesia. Latar belakang timbulnya pergerakan nasional adalah
rasa senasib dan sepenanggungan, penderitaan rakyat akibat penjajahan,
rakyat yang tidak mempunyai tempat mengadu nasib, adanya golongan
terpelajar yang sadar akan perjuangan, dan kemenangan Jepang melawan
Rusia pada tahun 1905. Sesudah tahun 1908 perjuangan banyak ditempuh
dengan jalan diplomasi. Kegagalan perjuangan sebelum tahun 1908
disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut. 1. Belum ada persatuan dan
kesatuan di seluruh Nusantara. 2. Perjuangan masih bersifat kedaerahan.
3. Kalah dalam persenjataan dan teknik perang.
Tokoh penting pergerakan nasional antara lain sebagai berikut. 1.
R. A. Kartini lahir di Jepara 21 April 1879 Jawa Tengah. Menerbitkan
buku Habis Gelap Terbitlah Terang , cita-citanya ingin memajukan kaum
wanita sederajat dengan pria. Ia mendapat gelar pahlawan emansipasi
wanita. 2. Dewi Sartika dari Jawa Barat. Ia mendirikan sekolah Kautaman
Istri. 3. dr. Sutomo, pendiri Budi Utomo pada tangal 20 Mei 1908. BU
adalah organisasi pergerakan nasional pertama maka kelahirannya
diabadikan sebagai hari kebangkitan nasional yaitu tanggal 20 Mei. 4.
K.H. Dewantoro lahir tanggal 2 Mei di Yogyakarta dengan nama kecil R.
Suwardi Suryaningrat. Jasa beliau adalah sebagai berikut. a. Pendiri
Indische Partij bersama Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusuma. Mereka
bertiga dikenal dengan nama Tiga Serangkai. IP berdiri tanggal 25
Desember 1912 di Bandung dengan tujuan ingin mempersatukan Indonesia
mencapai kemerdekaan. b. Pendiri Taman Siswa tanggal 3 Juli 1922 di
Yogyakarta, organisasi pendidikan dan kebangsaan. Ia mempunyai semboyan
“Ing ngarso sung tulodho, Ing madya mangun karso, Tut wuri handayani .”
Karena jasa beliau di bidang pendidikan beliau mendapat gelar Bapak
Pendidikan Nasional. Dan tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari
Pendidikan Nasional. 5. Douwes Dekker adalah mantan residen Lebak, ia
menulis buku Max Havelaar dengan nama samaran Multatuli. Isi buku
menceritakan penderitaan rakyat selama 31 tahun sewaktu dilaksanakan
tanam paksa. Buku itu menggegerkan warga Belanda, akhirnya tanam paksa
dibubarkan. Douwes Dekker juga ikut mendirikan Indische Partij. Tokoh
lain yang ikut dalam pergerakan nasional adalah Saman Hudi (pendiri SDI)
dan Hos Cokroaminoto, K.H. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), Ir.
Soekarno, dan kawan-kawan (pendiri PNI), dan Muh. Hatta (pendiri PI).
C. Peranan Sumpah Pemuda
dipimpin oleh R. Satiman Wirjosandjojo. Tahun 1918 berganti nama
dengan Jong Java. Tahun 1917 Moh. Hatta mendirikan Jong Sumatranen Bond
(JSB). Tahun 1918 pemuda Ambon mendirikan Jong Ambon. Setelah itu
menyusul Jong Celebes, Jong Batak, dan Sekar Rukun (Sunda). Tujuan mulia
Trikoro Darmo yaitu sakti, budi, dan bakti. Pada bulan Nopember 1925
organisasi itu mengadakan pertemuan di Jakarta dan sepakat untuk
berkumpul kembali. Pada bulan April 1926 diadakan kongres pemuda I di
Jakarta. Ketuanya adalah M. Tabrani dan Sumarto sebagai wakilnya.
Sekretarisnya adalah Jamaludin Adinegoro, dan Suwarso sebagai
bendaharanya. Pada tanggal 27–28 Oktober 1928 diadakan Kongres Pemuda
II. Ketua : Soegondo Djojopuspito Wakil Ketua : Djoko Marsaid
Sekretaris : Moh. Yamin Bendahara : Amir Syarifudin Kongres Pemuda II
menghasilkan Ikrar Sumpah Pemuda yang isinya sebagai berikut. 1. Kami
putra-putri Indonesia, mengakui bertumpah darah yang satu, tanah air
Indonesia.
2. Kami putra-putri Indonesia, mengakui berbangsa satu, bangsa
Indonesia.
3. Kami putra-putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan,
bahasa Indonesia.
Sebelum sumpah pemuda dibacakan dinyanyikan lagu Indonesia Raya oleh
W.R. Supratman, setelah itu setiap pertemuan dimulai dinyanyikan lagu
Indonesia Raya untuk menggugah semangat pemuda. Pada tanggal 22 Desember
1928 diadakan kongres organisasi wanita di Yogyakarta. Tanggal 22
Desember
diperingati sebagai Hari Ibu.
Untuk membantu militer Jepang dibentuk organisasi Seinendan, Fujinkai,
Bogodan (pembantu polisi), Keibodan dan Heiho (pembantu prajurit). Tahun
1943 dibentuk PETA (tentara pembela tanah air) dan giguyun (tentara
suka rela) yang bertugas mempertahankan wilayahnya. Untuk kepentingan
perang Jepang, rakyat diperas dan dipaksa bekerja. Jepang menggerakkan
pekerja paksa yaitu Romusha. Mereka dipaksa bekerja di tengah hutan, di
tebing, pantai, sungai untuk membuat lapangan terbang dan kubu-kubu
pertahanan serta rel kereta api. Romusha dipekerjakan di dalam dan luar
negeri seperti Burma, Malaysia dan Thailand.
Akibat penjajahan Jepang, rakyat kelaparan, kurang pangan, dan
sandang. Rakyat dipaksa menanam padi sebanyak-banyaknya dan jarak untuk
dijadikan pelumas mesin-mesin dan pesawat. Jepang berkuasa di Indonesia
selama kurang lebih tiga setengah tahun. Beberapa tokoh pahlawan yang
mengadakan
perlawanan terhadap Jepang, yaitu
1. Tengku Abdul Jalil dan Tengku Abdul Hamid memimpin perlawanan di Aceh
tahun 1942 dan 1944.
2. K.H. Zainal Mustafa di Singaparna Tasikmalaya Jawa Barat tahun 1944.
3. Pang Suma di Tayan Pontianak Kalimantan Barat tahun 1944.
4. L.Roemkorem di Papua tahun 1943.
5. Supriyadi di Blitar Jawa Timur tanggal 14 Februari
1945.http://www.crayonpedia.org/mw/PERJUANGAN_BANGSA_INDONESIA_MELAWAN_PENJAJAH_5.2_SITI_S
Perlawanan Rakyat Indonesia terhadap kekuasaan Kolonial.
I. Perlawanan rakyat di Indonesia sebelum tahun 1800.
a. Perlawanan Sultan Baabullah (Ternate) terhadap Portugis
Sejak kedatangan bangsa Portugis di Ternate tahun 1512 Portugis berusaha
memonopoli perdagangan sehingga menimbulkan kebencian rakyat Ternate,
tahun 1565 rakyat Ternate yang dipimpin oleh Sultan Harun berusaha
menyerang Benteng Santo Paulo, tetapi gagal bahkan Sultan harun dapat
ditangkap dan dibunuh.Perlawanan kemudian dilanjutkan oleh Sultan
Baabullah (putranya) dan berhasil menguasai Benteng Santo Paulo sehingga
Portugis diusir dari Ternate dan pergi ke Maluku selanjutnya menyingkir
ke Timur Timor.
b. Perlawanan Sultan Agung (Mataram).
Untuk menwujudkan cita-citanya menguasai seluruh Pulau Jawa, Sultan
mengirim pasukan kerajaan Mataram untuk menyerang Belanda di Batavia,
serangan pertama pada tahun 1628 tetapi gagal karena pasukan Mataram
kehabisan perbekalan.
Pada tahun 1629 untuk kedua kalinya Kerajaan Mataram menyerang VOC di
Batavia tetapi juga mengalami kegagalan, perlawanan-perlawanan rakyat
Mataram terhadap VOC terus berlanjut, antara lain perlawanan di bawah
pimpinan Tronojoyo, perlawanan untung Senopati, perlawanan Mangkubumi
dan Raden Mas Said.
c. Perlawanan rakyat Banten terhadap VOC
Perlawanan rakyat Banten terhadap VOC dipimpin oleh Sultan Ageng
Tirtayasa, namun putranya Sultan Haji bersahabat dengan Belanda, hal ini
menyebabkan pihak Belanda dapat ikut campur dalam urusan Istana
Kerajaan Mataram, Sultan Ageng Tirtayasa kemudian mencopot kekuasaan
tahta kerajaan dari Sultan Haji. Sultan Haji minta bantuan pada VOC
untuk menyerang ayahnya. Sultan Ageng Tirtayasa akhirnya ditangkap oleh
Belanda dan dibuang ke Batavia dan tahta kerajaan diserahkan kepada
Sultan Haji, namun di control oleh VOC.
d. Perlawanan rakyat Makasar terhadap VOC (1654 – 1655).
Perlawanan rakyat Makasar terhadap VOC dipimpin oleh Sultan Hasanuddin. Penyebab terjadi perlawanan adalah :
1. Belanda menganggap Makasar sebagai pelabuhan gelap.
2. Belanda mengadakan blokade ekonomi terhadap Makasar.
3. Sultan Hasanuddin menolak monopoli perdagangan Belanda di Makasar.
Dalam pertempuran VOC mengalami kesulitan
untuk menundukan Makasar, setiap terdesak Belanda mengajukan perjanjian
damai dengan Makasar, perjanjian damai tersebut dimanfaatkan oleh
Belanda untuk memperkuat pasukannya. Dalam menghadapi Makasar, Belanda
kemudian bersekutu dengan Aru Palaka (Raja Bone), yang merupakan musuh
Sultan Hasanuddin. Akhirnya Belanda berhasil menguasai Makasar dengan
ditandatanganinya perjanjian Bongaya yang sangat merugikan Makasar.
3. Perlawanan rakyat di Indonesia sesudah tahun 1800.
1. Perlawanan rakyat Maluku dibawah pimpinan Pattimura.
Sewenang-wenang yang dilakukan VOC di Maluku kembali dilanjutkan oleh
pemerintah Kolonial Hindia Belanda setelah berkuasa kembali pada tahun
1816 dengan berakhirnya pemerintah Inggris di Indonesia tahun 1811-1816.
Berbagai tindakan yang dilakukan oleh pemerintah Kolonial Hindia
Belanda di bawah ini menyebabkan timbulnya perlawanan rakyat Maluku.
a. Penduduk wajib kerja paksa untuk kepentingan Belanda misalnya di perkebunan-perkebunan dan membuat garam.
b. Penyerahan wajib berupa ikan asin, dendeng dan kopi.
e. Banyak guru dan pegawai pemerintah diberhentikan dan sekolah hanya dibuka di kota-kota besar saja.
d. Jumlah pendeta dikurangi sehingga kegaitan menjalankan ibadah menjadi terhalang.
e. Secara khusus yang menyebabkan kemarahan rakyat adalah penolakan
Residen Van den Berg terhadap tuntutan rakyat untuk membayar harga
perahu yang dipisah sesuai dengan harga sebenarnya.
Siapakah tokoh perlawanan rakyat Maluku dan di manakah perlawanan itu
berkobar. Perhatikan gambar tokoh dan peta sebagaian daerah Maluku di
berikut ini.
1817 rakyat Saparua mengadakan pertemuan dan menyepakati untuk
memilih Thomas Matulessy (Kapitan Pattimura) untuk memimpin perlawanan.
Keesokan harinya mereka berhasil merebut benteng Duurstede di Saparua
sehingga residen Van den Berg tewas. Selain Pattimura tokoh lainnya
adalah Paulus Tiahahu dan puterinya Christina Martha Tiahahu. Anthoni
Reoak, Phillip Lattumahina, Said Perintah dan lain-lain. Perlawanan juga
berkobar di pulau-pulau lain yaitu Hitu, Nusalaut dan Haruku penduduk
berusaha merebut benteng Zeeeland.
Untuk merebut kembali benteng Duurstede, pasukan Belanda didatangkan
dari Ambon dibawah pimpinan Mayor Beetjes namun pendaratannya digagalkan
oleh penduduk dan mayor Beetjes tewas. Pada bulan Nopember 1817 Belanda
mengerahkan tentara besar-besaran dan melakukan sergapan pada malam
hari Pattimura dan kawan-kawannya tertangkap. Mereka menjalani hukuman
gantung pada bulan Desember 1817 di Ambon. Paulus Tiahahu tertangkap dan
menjalani hukuman gantung di Nusalaut. Christina Martha Tiahahu dibuang
ke pulau Jawa. Selama perjalanan ia tutup mulut dan mogok makan yang
menyebabkan sakit dan meninggal dunia dalam pelayaran pada awal Januari
tahun 1818.
Sejak Belanda berkuasa di Maluku rakyat menjadi sengsara, sehingga
rakyat semakin benci, dendam kepada Belanda. Dibawah pimpinan Pattimura
(Thomas Matualessi) rakyat Maluku bangkit melawan Belanda tahun 1817 dan
berhasil menduduki Benteng Duursted dan membunuh Residen Van Den Berg.
Belanda kemudian minta bantuan ke Batavia, sehingga perlawanan Pattimura
dapat dipatahkan, Pattimura kemudian ditangkap dan dijatuhi hukuman
gantung bulan Desember 1817. Dalam perjuangan rakyat Maluku ini juga
terdapat seorang pejuang wanita yang bernama Christina Martha Tiahahu.
2. Perang Paderi (1821 – 1838).
Pada mulanya Perang Paderi merupakan perang antara kaum adat dan kaum ulama. Yang disebabkan oleh :
1) Adanya perbedaan pendapat antara kaum ulama dengan kaum adat. Kaum
ulama terpengaruh gerakan Wahabi menghendaki pelaksanaan Ajaran Agama
Islam berdasarkan Al’Quran dan Hadist.
2) Kaum ulama ingin memberantas kebiasaan buruk yang dilakukan kaum adat, seperti berjudi, menyambung ayam dan mabuk.
Karena terdesak kaum adat minta bantuan kepada Belanda, tetapi kemudian
kaum adat sadar bahwa Belanda ingin menguasai Sumatera Barat, kemudian
kaum adat bersatu dengan kaum Paderi untuk menghadapi Belanda, karena
terdesak Belanda mengirim bantuan dari Pulau Jawa yang diperkuat oleh
Pasukan Sentot Ali Basa Prawirodirjo, tapi kemudian Sentot Ali Basa
Prawirodirjo berpihak kepada kaum Paderi sehingga Sentot Ali Basa
Prawirodirjo ditangkap dan dibuang ke Cianjur. Dengan siasat Benteng
Stelsel pada tahun 1837 Belanda mengepung Bonjol, sehingga Imam Bonjol
ditangkap dan dibuang ke Cianjur kemudian dipindahkan ke Menado hingga
wafat tahun 1864.
3. Perang Diponegoro (1825 – 1830).
Penyebab terjadi Perang Diponegoro adalah :
1. Sebab umum
a. Penderitaan dan kesenggaraan rakyat akibat pajak.
b. Campur tangan Belanda dalam urusan istana.
c. Munculnya kecemasan dikalangan para ulama karena berkembangnya Budaya Barat.
2. Sebab khusus
Belanda membuat jalan di Tegalrejo yang melewati makam leluhur Diponegoro tanpa minta izin terlebih dahulu.
Dalam perang ini Diponegoro menggunakan siasat perang gerilya yang
didukung oleh kaum bangsawan dan ulama serta bupati, antara lain Kyai
Mojo dan Sentot Ali Basa Prawirodirjo. Sementara Belanda menggunakan
siasat Benteng Stelsel yang bertujuan untuk mempersempit gerak Pasukan
Diponegoro.
Pasukan Diponegoro semakin lemah terlebih lagi pada tahun 1829 Kyai Mojo
dan Sentot Ali Basa memisahkan diri. Lemahnya pasukan Diponegoro
menyebabkan Diponegoro menerima tawaran Belanda untuk berunding di
Magelang, dalam perundingan ini pihak Belanda diwakili oleh Jenderal De
Kock namum perundingan mengalami kegagalan dan Diponegoro di tangkap dan
dibawa ke Batavia, selanjutnya dipindahkan ke Menado kemudian
dipindahkan lagi ke Makasar dan meninggal di Benteng Rotterdam tanggal 8
Januari 1855.
Pengeran Diponegoro
4. Perlawanan Rakyat Bali.
Bangkitnya perlawanan Rakyat Bali terhadap Belanda disebabkan oleh
1. Sebab Umum
Adanya Hak Tawan Karang yaitu suatu ketentuan bahwa setiap kapal yang terdampar diperairan Bali menjadi milik Raja Bali.
2. Sebab Khusus
Menyangkut tuntutan Belanda terhadap Raja-raja Bali yang ditolak berisi :
1. Hak Tawan Karang dihapuskan.
2. Raja harus memberi perlindungan terhadap pedagang-pedagang Belanda di Bali.
3. Belanda minta diizinkan mengibarkan Bendera di Bali.
Perlawanan Rakyat Bali dipimpin oleh Patih Gusti Ketut Jelantik dari
Kerajaan Buleleng yang didukung oleh Kerajaan-kerajaan di Bali seperti
Kerajaan Badung, Kerajaan Klungkung dan Kerajaan Buleleng.
Dalam pertempuran melawan Belanda rakyat Bali mengobarkan Perang
Puputan dengan pusat pertahanan di Benteng Jagaraga. Karena pasukan
Belanda menggunakan persenjataan yang lebih lengkap akhirnya Bali dapat
dikuasai oleh Belanda.
5. Perang Aceh. (1873-1904)
Perlawanan rakyat Aceh merupakan perlawanan yang paling lama dan juga
terakhir bagi Belanda dalam rangka Pax Netherlandica. Perlawanan
dipimpin oleh para Bangsawan (Tengku) dan para tokoh ulama (Tengku)
seperti Teuku Umar, Teuku Cik Ditiro, Penglima Polem, Cut Nyak Dien, Cut
Mutia dan lain-lain.
Salah satu penyebab terjadinya peperangan karena Belanda melanggar
Perjanjian Traktat London tahun 1824 yang berisi bahwa Inggris dan
Belanda tidak boleh mengganggu ke merdekaan Aceh. Untuk menguasai Aceh,
Belanda menggunakan cara seperti Konsentiasi Stelsel dan mendatangkan
ahli Agama Islam yaitu Snouch Hurgronye.
Cara ini dapat mempersempit ruang gerak pasukan Aceh dan dari Snouch
Hurgronye Belanda mengetahui kehidupan rakyat Aceh dan cara – cara
menaklukan Aceh. Sehingga akhirnya Aceh dapat dikuasai oleh Belanda,
kemudian Raja-Raja didaerah yang berhasil dikuasai oleh Belanda diikat
dengan Plakat Pendek yang isinya :
1. Mengakui kedaulatan Belanda atas daerahnya.
2. Tidak akan mengadakan hubungan dengan negara lain.
3. Taat dan patuh pada Pemerintah Belanda
http://yofrizal.wordpress.com/2010/02/02/perlawanan-rakyat-indonesia-terhadap-kekuasaan-koloni