Tampilkan postingan dengan label Dongeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dongeng. Tampilkan semua postingan

Si Monyet dan Si Kancil

Si Monyet dan Si Kancil



a. Anda bisa memakai buah-buahan sebagai alat peraga. Ketika memperagakan buah dimakan oleh si Monyet, suruh anak untuk memperagakannya.

b. Tokoh cerita ini adalah Si Monyet dan si Kancil. Anda dapat menceritakan juga ciri-ciri dan kelakuan dua hewan ini.

c. Tirukan suara tawa kancil dan monyet dengan baik. Juga peragakan kebiasaan-kebiasaannya. Tetapi jangan over, lakukan seperlunya untuk mendukung cerita.

d. Cerita ini memiliki arti yang ambigu. Adalah kecerobohan Monyet karena rasa iri yang timbul. Jangan mudah diadu domba orang. Orang tua harus hati-hati dalam mengarahkan pesan yang dikandungnya, jangan sampai anak lebih menangkap kesan kelicikan Kancil.


Pada suatu hari, seorang Petani yang sedang berjalan hendak pulang dari ladangnya menemukan seekor Kancil yang tergeletak di bawah pohon. Kancil tersebut ternyata pingsan karena membentur batang pohon ketika hendak bersembunyi dari kejaran pemangsa.

“Lho mengapa ada Kancil pingsan di sini?” Pak petani dengan perasaan heran menghampiri dan kemudian mengangkat kancil itu dan di bawanya pulang ke rumahnya. Di dalam rumahnya petani itu membaringkan kancil di atas sebuah meja dan mengobati luka-lukanya.


Sehabis memberikan pengobatan kepada kancil itu, kemudian Pak petani itu pun meletakan beberapa buah pisang yang dipetiknya dari ladang dan beberapa makanan lain seperti wortel, sayur-sayuran, dengan harapan apabila kancil tadi siuman dia dapat menyantap makanan-makanan itu. kemudian untuk selanjutnya Pak Petani itu pun keluar rumah dan mengunci rumahnya itu, dimana di dalamnya ada kelinci yang terbaring pingsan tersebut. Pak petani pergi ke tempat saudaranya untuk mengantarkan hasil kebun lain yang juga dipetiknya dari ladang.

Selang waktu beberapa lama, si Kancil pun siuman dari pingsannya. Dan ketika dia mendapati dirinya berada di dalam rumah Pak petani yang terkunci itu Kancil pun sangat ketakutan sekali, dia berlari-lari di dalam rumah itu kesana-kemari. Dia berlari mencari pintu yang tidak terkunci agar dia dapat keluar dari rumah itu. Namun sayang, sia-sia baginya untuk mencari pintu yang tidak terkunci. Karena Pak petani mengunci semua pintu rumahnya tanpa terkecuali. Di dalam kegelisahannya tersebut Kancil merasa perutnya lapar sekali, dan seketika itu pula dia melihat ada beberapa sisir pisang kesukaannya tergeletak di atas meja tempatnya tadi berbaring. Tanpa pikir panjang Kancil pun mendekati meja tersebut dan kemudian melahab habis pisang-pisang yang ada di atas meja tersebut.

Setelah Pisang-pisang tersebut habis dilahabnya, iapun melirik pada makanan-makanan lain yang memang tersedia di situ. Sebenarnya pisang-pisang tadi belum memuaskan perut si Kancil. Tanpa pikr panjang lagi iapun melahab juga makanan-makanan lainnya. Pada saat semua makanan yang sengaja disediakan oleh petani untuk Kancil itu habis dimakan oleh Kancil, akhirnya Kancil merasa takut kembali. Dia takut jangan-jangan Pak Petani itu mengurungnya di dalam rumah, karena Pak Petani sedang pergi ke pasar untuk membeli bumbu-bumbu untuk membumbui dirinya nanti setelah dia di potong oleh Pak petani.

“Aduh... Bagaimana ini! Aku harus bisa keluar dari tempat ini. Kalau tidak, tamatlah riwayatku.” Batin si Kancil dengan rasa cemas yang luar biasa.

Lalu si Kancilpun mencoba memutar otak mencari akal bagaimana caranya untuk keluar dari rumah itu. Pada saat Kancil menengok keadaan di luar rumah melalui jendela rumah itu, Kancil melihat ada seekor monyet sedang bergelayutan di sebuah pohon rambutan. Monyet itu adalah peliharaan Pak Petani tadi. Dan pada saat itulah terbersit ide dari pikiran Kancil.

Si Kancil pun memanggil monyet itu, “Nyet... monyet... monyet...!!!!”

Merasa ada yang memanggil, si monyet pun celingukan mencari sumber suara yang memanggilnya itu. Hingga akhirnya dia mendapati sumber suara itu dan kemudian dia menghampirinya.

“Hai ternyata engkau Kancil!” Dengan perasaan hewan monyet itu bertanya, “mengapa engkau berada di dalam rumah, Kancil?” Rupanya si monyet tidak tahu bahwa Kancil berada di dalam rumah karena di tolong oleh tuannya karena pingsan menabrak sebuah pohon.

“ha..ha..ha..ha.. ternyata engkau belum tahu monyet mengapa aku berada di dalam rumah tuanmu ini! Ha..ha..ha... sungguh terlalu kamu nyet... monyet!” Kancil mulai melancarkan siasatnya.

“Lho... memangnya kenapa kamu ada di dalam rumah ini, cil?” tanya monyet dengan rasa ingin tahu.

“Begini monyet, aku berada di dalam sini karena aku akan dijadikan anak angkat tuanmu itu nyet... monyet. Aaaah... masa kamu belum tahu, nyet?!”

“Ah, yang benar saja. Apa benar apa yang engkau katakan itu cil?” Rupanya si monyet mulai terhasut oleh siasat si Kancil.

“Iya benar itu, aku tidak berbohong. Tidak ada untungnya aku berbohong kepadamu nyet...monyet. Seharusnya kamu malu dong sama aku, masa aku yang baru saja datang sudah ingin diangkat oleh tuanmu itu, sedangkan kamu yang sudah dipeliharanya bertahun-tahun boro-boro diangkat menjadi anaknya, tidur di dalam rumahnya seperti aku ini pun tidak pernah. Kasihan sekali kamu nyet... monyet.”

Monyet pun terhasut atas apa yang dilontarkan oleh si Kancil tersebut, dan si monyet pun terlihat menundukan kepalanya dan menangis. Sambil menangis dia berkata, “Iya benar apa yang engkau katakan cil, aku sudah bertahun-tahun mengabdi pada tuanku Pak petani itu. Dan aku selalu membantunya dan menemaninya, walaupun tuanku itu baik padaku, mengapa dia tega tidak mengangkatku sebagai anaknya, sedangkan engkau yang baru saja datang di rumah ini langsung mau di angkat sebagai anaknya. Malang benar nasibku ini cil..” Ujar si Monyet.

Melihat calon korbannya sudah mulai akan masuk dalam perangkapnya, Kancil pun segera mengompori si monyet, “Iya nyet.. coba engkau lihat di dalam rumah ini. Disediakan banyak sekali makanan dan telah aku habiskan semuanya, ada pisang, wortel-wortel segar dan berbagai sayuran. Bayangkan betapa sayangnya tuanmu itu kepadaku. Sayangnya padaku melebihi sayangnya padamu nyet, coba lihat kau hanya di beri beberapa pisang saja, sedangkan aku... waaah, pokoknya ga adil itu tuanmu, Pak petani!”

Monyet pun semakin bersedih setelah Kancil melontarkan kata-kata seperti itu. Dan, merasa korbannya telah masuk perangkap, pada saat itulah Kancil mulai melancarkan siasatnya, “begini nyet, aku sebagai temanmu yang baik tidak tega melihat keadaanmu seperti ini. Aku ada saran, bagaimana sekiranya engkau menggantikan aku berada di dalam rumah ini.”

“Apa katamu cil, Aku akan menggantikan posisimu?” Tanya monyet dengan keheranan.

“Iya, nyet. Bagaimana?”

“Iya aku sih mau saja, tapi aku takut Pak petani nanti marah kepadaku!”

“Tidak usah takut nyet, nanti biar aku yang akan bilang kepada tuanmu itu bahwa engkaulah sebenarnya yang lebih pantas menjadi anak angkatnya ketimbang aku. Dan aku yakin tuanmu itu akan mengerti dan memahami maksudku itu!”

Dengan hati dan wajah dipenuhi rasa gembira, monyet itu pun mengangguk-agukan kepalanya tanda setuju.

“Tapi bagaimana caranya aku menggantikan posisimu itu, cil?”

“Oh, itu mudah. Begini caranya tolong engkau bukakan pintu rumah yang terkunci ini. Biarkan aku keluar dan berada di luar dan engkau berada di dalam.”

“Oke cil, kebetulan aku tahu dimana Pak petani meletakan kunci rumah ini. Sebentar ya akan aku ambil kunci rumah itu!”

“Oke temanku yang baik, cepatnya aku tunggu lho!”

“Siiiip, Bos!” Dengan hati gembira monyet pun akhirnya bergegas mencari kunci yang diletakkan oleh Pak petani tersebut di suatu tempat di sekitar rumah tersebut.

Akhirnya ditemukanlah kunci yang dicari oleh monyet tersebut. Dan kemudian dibukalah pintu rumah tersebut. Dan sebagaimana yang disepakati oleh Monyet dan Kancil, mereka pun berganti tempat, Kancil berada di luar rumah dan si monyet berada di dalam rumah.

Saat mereka sudah berganti posisi, Kancil pun kemudian mengucapkan selamat tinggal kepada monyet dan kemudian lari dan masuk ke dalam hutan. Melihat kejadian itu, monyet pun hanya celingukan keheranan terhadap tingkah laku aneh si Kancil tersebut. Pada saat Pak petani pulang ke rumah, dia mendapati yang ada di dalam rumahnya adalah monyet bukan Kancil. Mendapati hal seperti itu Pak petani pun tersenyum, karena mengira si monyetlah yang melepaskan si Kancil dari pintu yang dikuncinya tersebut. Pak petani berpikiran bahwa monyet peliharaannya itu cukup cerdas karena dapat membuka pintu yang terkunci. Sambil tersenyum petani itu pun memberikan sesisir pisang dan banyak buah dan sayuran kepada monyet tersebut sebagai hadiah dari kecerdasan dari si monyet tersebut.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Kancil Kena Batunya

Dongeng Anak: Kancil Kena batunya


Angin yang berhembus semilir-semilir membuat penghuni hutan mengantuk. Begitu juga
dengan Si Kancil. Untuk mengusir rasa kantuknya ia berjalan-jalan di hutan sambil
membusungkan dadanya. Sambil berjalan ia berkata, "Siapa yang tak kenal Kancil. Si
pintar, si cerdik dan si pemberani. Setiap masalah pasti selesai olehku". Ketika sampai di sungai, ia segera minum untuk menghilangkan rasa hausnya. Air yang begitu jernih
membuat Kancil dapat berkaca. Ia berkata-kata sendirian. "Buaya, Gajah, Harimau
semuanya binatang bodoh, jika berhadapan denganku mereka dapat aku perdaya".
Si Kancil tidak tahu kalau ia dari tadi sedang diperhatikan
oleh seekor Siput yang sedang duduk di bongkahan batu
yang besar. Si Siput berkata, "Hei Kancil, kau asyik sekali
berbicara sendirian. Ada apa? Kamu sedang bergembira?".
Kancil mencari-cari sumber suara itu. Akhirnya ia
menemukan letak Si Siput.
"Rupanya sudah lama kau memperhatikanku ya?". Siput
yang kecil dan imut-imut. Eh bukan!. "Kamu memang kecil
tapi tidak imut-imut, melainkan jelek bagai kotoran
ayam". Ujar Si Kancil. Siput terkejut mendengar
ucapan
Si Kancil yang telah menghina dan membuatnya jengkel.
Lalu Siputpun berkata, "Hai Kancil!, kamu memang cerdik
dan pemberani karena itu aku
menantangmu lomba adu cepat". Akhirnya mereka setuju perlombaan dilakukan minggu
depan.
Setelah Si Kancil pergi, Siput segera memanggil dan
mengumpulkan teman-temannya. Ia meminta tolong
teman-temannya agar waktu perlombaan nanti semuanya
harus berada di jalur lomba. "Jangan lupa, kalian
bersembunyi di balik bongkahan batu, dan salah satu
harus segera muncul jika Si Kancil memanggil, dengan
begitu kita selalu berada di depan Si Kancil," kata Siput.
Hari yang dinanti tiba. Si Kancil datang dengan sombongnya, merasa ia pasti akan sangat
mudah memenangkan perlombaan ini. Siput mempersilahkan Kancil untuk berlari duluan
dan memanggilnya untuk memastikan sudah sampai mana ia sampai. Perlombaan dimulai.
Kancil berjalan santai, sedang Siput segera menyelam ke dalam air. Setelah
beberapa langkah, Kancil memanggil Siput. Tiba-tiba
Siput muncul di depan Kancil sambil berseru, "Hai
Kancil! Aku sudah sampai sini." Kancil terheran-heran,
segera ia mempercepat langkahnya. Kemudian ia
memanggil Si Siput lagi. Ternyata Siput juga sudah
berada di depannya. Akhirnya Si Kancil berlari, tetapi
tiap ia panggil Si Siput, ia selalu muncul di depan Kancil.
Keringatnya bercucuran, kakinya
terasa lemas dan nafasnya tersengal-sengal. Ketika hampir finish, ia memanggil Siput,
tetapi tidak ada jawaban. Kancil berpikir Siput sudah tertinggal jauh dan ia akan menjadi
pemenang perlombaan.
Si Kancil berhenti berlari, ia berjalan santai sambil beristirahat. Dengan senyum sinis
Kancil berkata, "Kancil memang tiada duanya." Kancil
dikagetkan ketika ia mendengar suara Siput yang sudah
duduk di atas batu besar. "Oh kasihan sekali kau Kancil.
Kelihatannya sangat lelah, Capai ya berlari?". Ejek
Siput. "Tidak mungkin!", "Bagaimana kamu bisa lebih
dulu sampai, padahal aku berlari sangat kencang", seru
Si Kancil.
"Sudahlah akui saja kekalahanmu," ujar Siput. Kancil masih heran dan tak percaya kalau a
dikalahkan oleh binatang yang lebih kecil darinya. Kancil menundukkan kepala dan
mengakui kekalahannya. "Sudahlah tidak usah sedih, aku tidak minta hadiah kok. Aku
hanya ingin kamu ingat satu hal, janganlah sombong dengan kepandaian dan kecerdikanmu
dalam menyelesaikan setiap masalah, kamu harus mengakui bahwa semua binatang
mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, jadi jangan suka menghina dan
menyepelekan mereka", ujar Siput. Siput segera menyelam ke dalam sungai. Tinggallah Si
Kancil dengan rasa menyesal dan malu.
HIKMAH :
Janganlah suka menyombongkan diri dan menyepelekan orang lain, walaupun kita
memang cerdas dan pandai.


Si Kancil Mencuri Ketimun

Siang itu panas sekali. Matahari bersinar garang. Tapi hal itu tidak terlalu dirasakan oleh
Kancil. Dia sedang tidur nyenyak di bawah sebatang pohon yang rindang. Tiba-tiba saja
mimpi indahnya terputus. "Tolong! Tolong! " terdengar teriakan dan jeritan berulangulang.
Lalu terdengar suara derap kaki binatang yang sedang berlari-lari. "Ada apa, sih?"
kata Kancil. Matanya berkejap-kejap, terasa berat untuk dibuka karena masih mengantuk.
Di kejauhan tampak segerombolan binatang berlari-lari menuju ke arahnya. "Kebakaran!
Kebakaran!" teriak Kambing. "Ayo lari, Cil! Ada kebakaran di hutan!" Memang benar. Asap
tebal membubung tinggi ke angkasa. Kancil ketakutan melihatnya. Dia langsung bangkit
dan berlari mengikuti teman-temannya.
Kancil terus berlari. Wah, cepat juga larinya. Ya, walaupun Kancil bertubuh kecil, tapi dia
dapat berlari cepat. Tanpa terasa, Kancil telah berlari jauh, meninggalkan temantemannya.
"Aduh, napasku habis rasanya," Kancil berhenti dengan napas terengah-engah,
lalu duduk beristirahat. "Lho, di mana binatang-binatang lainnya?" Walaupun Kancil senang
karena lolos dari bahaya, tiba-tiba ia merasa takut. "Wah, aku berada di mana sekarang?
Sepertinya belum pernah ke sini." Kancil berjalan sambil mengamati daerah sekitarnya.
"Waduh, aku tersesat. Sendirian lagi. Bagaimana ini?" Kancil semakin takut dan bingung.
"Tuhan, tolonglah aku."
Kancil terus berjalan menjelajahi hutan yang belum pernah dilaluinya. Tanpa terasa, dia
tiba di pinggir hutan. Ia melihat sebuah ladang milik Pak Tani. "Ladang sayur dan buahbuahan?
Oh, syukurlah. Terima kasih, Tuhan," mata Kancil membelalak. Ladang itu penuh
dengan sayur dan buah-buahan yang siap dipanen. Wow, asyik sekali! "Kebetulan nih, aku
haus dan lapar sekali," kata Kancil sambil menelan air liurnya. "Tenggorokanku juga terasa
kering. Dan perutku keroncongan minta diisi. Makan dulu, ah."
Dengan tanpa dosa, Kancil melahap sayur dan buahbuahan
yang ada di ladang. Wah, kasihan Pak Tani. Dia
pasti marah kalau melihat kejadian ini. Si Kancil nakal
sekali, ya? "Hmm, sedap sekali," kata Kancil sambil
mengusap-usap perutnya yang kekenyangan. "Andai setiap
hari pesta seperti ini, pasti asyik." Setelah puas, Kancil
merebahkan dirinya di bawah sebatang pohon yang
rindang. Semilir angin yang bertiup, membuatnya mengantuk. "Oahem, aku jadi kepingin
tidur lagi," kata Kancil sambil menguap. Akhirnya binatang yang nakal itu tertidur,
melanjutkan tidur siangnya yang terganggu gara-gara kebakaran di hutan tadi. Wah,
tidurnya begitu pulas, sampai terdengar suara dengkurannya. Krr... krr... krrr...
Ketika bangun pada keesokan harinya, Kancil merasa lapar lagi. "Wah, pesta berlanjut
lagi, nih," kata Kancil pada dirinya sendiri. "Kali ini aku pilih-pilih dulu, ah. Siapa tahu ada
buah timun kesukaanku." Maka Kancil berjalan-jalan mengitari ladang Pak Tani yang luas
itu. "Wow, itu dia yang kucari!" seru Kancil gembira. "Hmm, timunnya kelihatan begitu
segar. Besar-besar lagi! Wah, pasti sedap nih." Kancil langsung makan buah timun sampai
kenyang. "Wow, sedap sekali sarapan timun," kata Kancil sambil tersenyum puas. Hari
sudah agak siang. Lalu Kancil kembali ke bawah pohon rindang untuk beristirahat.
Pak Tani terkejut sekali ketika melihat ladangnya. "Wah, ladang timunku kok jadi
berantakan-begini," kata Pak Tani geram. "Perbuatan siapa, ya? Pasti ada hama baru yang
ganas. Atau mungkinkah ada bocah nakal atau binatang lapar yang mencuri timunku?"
Ladang timun itu memang benar-benar berantakan. Banyak pohon timun yang rusak karena
terinjak-injak. Dan banyak pula serpihan buah timun yang berserakan di tanah. "Hm, awas,
ya, kalau sampai tertangkap! " omel Pak Tani sambil mengibas-ngibaskan sabitnya. "Panen
timunku jadi berantakan." Maka seharian Pak Tani sibuk membenahi kembali ladangnya
yang berantakan.
Dari tempat istirahatnya, Kancil terus memperhatikan Pak Tani itu. "Hmm, dia pasti yang
bernama Pak Tani," kata Kancil pada dirinya sendiri. "Kumisnya boleh juga. Tebal,' hitam,
dan melengkung ke atas. Lucu sekali. Hi... hi... hi.... Sebelumnya Kancil memang belum
pernah bertemu dengan manusia. Tapi dia sering mendengar cerita tentang Pak Tani dari
teman-temannya. "Aduh, Pak Tani kok lama ya," ujar Kancil. Ya, dia telah menunggu lama
sekali. Siang itu Kancil ingin makan timun lagi. Rupanya dia ketagihan makan buah timun
yang segar itu.
Sore harinya, Pak Tani pulang sambil memanggul
keranjang berisi timun di bahunya. Dia pulang sambil
mengomel, karena hasil panennya jadi berkurang. Dan
waktunya habis untuk menata kembali ladangnya yang
berantakan. "Ah, akhirnya tiba juga waktu yang
kutunggu-tunggu," Kancil bangkit dan berjalan ke ladang.
Binatang yang nakal itu kembali berpesta makan timun
Pak Tani.
Keesokan harinya, Pak Tani geram dan marah-marah melihat ladangnya berantakan lagi.
"Benar-benar keterlaluan!" seru Pak Tani sambil mengepalkan tangannya. "Ternyata
tanaman lainnya juga rusak dan dicuri." Pak Tani berlutut di tanah untuk mengetahui jejak
si pencuri. "Hmm, pencurinya pasti binatang," kata Pak Tani. "Jejak kaki manusia tidak
begini bentuknya."
Pemilik ladang yang malang itu bertekad untuk menangkap si pencuri. "Aku harus membuat
perangkap untuk menangkapnya!" Maka Pak Tani segera meninggalkan ladang. Setiba di
rumahnya, dia membuat sebuah boneka yang menyerupai manusia. Lalu dia melumuri
orang-orangan ladang itu dengan getah nangka yang lengket!
Pak Tani kembali lagi ke ladang. Orang-orangan itu dipasangnya di tengah ladang timun.
Bentuknya persis seperti manusia yang sedang berjaga-jaga. Pakaiannya yang kedodoran
berkibar-kibar tertiup angin. Sementara kepalanya memakai caping, seperti milik Pak
Tani.
"Wah, sepertinya Pak Tani tidak sendiri lagi," ucap Kancil, yang melihat dari kejauhan. "Ia
datang bersama temannya. Tapi mengapa temannya diam saja, dan Pak Tani
meninggalkannya sendirian di tengah ladang?" Lama sekali Kancil menunggu kepergian
teman Pak Tani. Akhirnya dia tak tahan. "Ah, lebih baik aku ke sana," kata Kancil
memutuskan. "Sekalian minta maaf karena telah mencuri timun Pak Tani. Siapa tahu aku
malah diberinya timun gratis."
"Maafkan saya, Pak," sesal Kancil di depan orang-orangan ladang itu. "Sayalah yang telah
mencuri timun Pak Tani. Perut saya lapar sekali. Bapak tidak marah, kan?" Tentu saja
orang-orangan ladang itu tidak menjawab. Berkali-kali Kancil meminta maaf. Tapi orangorangan
itu tetap diam. Wajahnya tersenyum, tampak seperti mengejek Kancil.
"Huh, sombong sekali!" seru Kancil marah. "Aku minta maaf kok diam saja. Malah
tersenyum mengejek. Memangnya lucu apa?" gerutunya. Akhirnya Kancil tak tahan lagi.
Ditinjunya orangorangan ladang itu dengan tangan kanan. Buuuk! Lho, kok tangannya tidak
bisa ditarik? Ditinjunya lagi dengan tangan kiri. Buuuk! Wah, kini kedua tangannya
melekat erat di tubuh boneka itu. "Lepaskan tanganku!" teriak Kancil jengkel. "Kalau
tidak, kutendang kau!" Buuuk! Kini kaki si Kancil malah melekat juga di tubuh orangorangan
itu. "Aduh, bagaimana ini?"
Sore harinya, Pak Tani kembali ke ladang. "Nah, ini dia pencurinya!" Pak Tani senang
melihat jebakannya berhasil. "Rupanya kau yang telah merusak ladang dan mencuri
timunku." Pak Tani tertawa ketika melepaskan Kancil. "Katanya kancil binatang yang
cerdik," ejek Pak Tani. "Tapi kok tertipu oleh orang-orangan ladang. Ha... ha... ha...."
Kancil pasrah saja ketika dibawa pulang ke rumah Pak Tani. Dia dikurung di dalam kandang
ayam. Tapi Kancil terkejut ketika Pak Tani menyuruh istrinya menyiapkan bumbu sate.
"Aku harus segera keluar malam ini juga" tekad Kancil. Kalau tidak, tamatlah riwayatku."
Malam harinya, ketika seisi rumah sudah tidur, Kancil memanggil-manggil Anjing, si
penjaga rumah. "Ssst... Anjing, kemarilah," bisik Kancil. "Perkenalkan, aku Kancil. Binatang
piaraan baru Pak Tani. Tahukah kau? Besok aku akan diajak Pak Tani menghadiri pesta di
rumah Pak Lurah. Asyik, ya?"
Anjing terkejut mendengarnya. "Apa? Aku tak percaya! Aku yang sudah lama ikut Pak
Tani saja tidak pernah diajak pergi. Eh, malah kau yang diajak." Kancil tersenyum penuh
arti. "Yah, terserah kalau kau tidak percaya. Lihat saja besok! Aku tidak bohong!"
Rupanya Anjing terpengaruh oleh kata-kata si Kancil. Dia meminta agar Kancil membujuk
Pak Tani untuk mengajaknya pergi ke pesta. "Oke, aku akan berusaha membujuk Pak
Tani," janji Kancil. "Tapi malam ini kau harus menemaniku tidur di kandang ayam.
Bagaimana?" Anjing setuju dengan tawaran Kancil. Dia segera membuka gerendel pintu
kandang, dan masuk. Dengan sigap, Kancil cepat-cepat keluar dari kandang. "Terima
kasih," kata Kancil sambil menutup kembali gerendel pintu. "Maaf lho, aku terpaksa
berbohong. Titip salam ya, buat Pak Tani. Dan tolong sampaikan maafku padanya." Kancil
segera berlari meninggalkan rumah Pak Tani. Anjing yang malang itu baru menyadari
kejadian sebenarnya ketika Kancil sudah menghilang.
HIKMAH :
Kancil yang cerdik, ternyata mudah diperdaya oleh Pak Tani. Itulah sebabnya kita
tidak boleh takabur.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Kisah si Kancil

Kisah si kancil dan kuda yang sombong


http://biliksebelah.wordpress.com
Pada jaman dahulu ada seekor kura-kura, manusia, dan hewan lainnya. Mereka saling berbagi
dan hidup rukun di dalam hutan yang sejuk. Suatu sore, pada waktu si kancil berjalan sendiri, tiba tiba ada seekor kuda yang berlari sangat kencang mendahuluinya, sambil berteriak,
Kancil jelek! Tidak bisa berlari!”
Hai kuda jangan sombong, aku bisa berlari cepat kok.”
Ah bohong, kalau berani ayo lawan aku lomba lari cepat. Seratus meter.”
dan kancil pun setuju. Mereka sepakat untuk bertanding di sini esok hari.
Lalu mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Kuda langsung tidur, ia malas berlatih. Sedangkan kancil langsung berlatih secukupnya supaya besok pagi ia bisa memenangkan pertandingan.
Esok harinya, mereka pun berkumpul di tempat yang telah disepakati. Teman-teman kuda dan kancil ikut datang juga.
Tepat pukul sembilan pagi perrtandingan dimulai. kuda langsung melesat meninggalkan si kancil. Teman-teman kancil berteriak memberi semangat pada kancil, sehingga ia terus berusaha berlari mengejar kuda yang sudah jauh di depan. Akhirnya si kancil bisa mendahului kuda yang berhenti karena kecapekan lalu tertidur di bawah pohon apel.
Akhirnya si kancil pun memenangkan lomba lari. Kuda yang sombong itu meminta maaf pada si kancil dan semua teman-temannya, dan semua hewan di hutan akhirnya hidup rukun dan damai.
>> >TAMAT<<<

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Anak Pengembala dan Serigala

Anak Penggembala dan Serigala

Seorang anak gembala selalu menggembalakan domba milik tuannya dekat suatu hutan yang gelap dan tidak jauh dari kampungnya. Karena mulai merasa bosan tinggal di daerah peternakan, dia selalu menghibur dirinya sendiri dengan cara bermain-main dengan anjingnya dan memainkan serulingnya.
Suatu hari ketika dia menggembalakan dombanya di dekat hutan, dia mulai berpikir apa yang harus dilakukannya apabila dia melihat serigala, dia merasa terhibur dengan memikirkan berbagai macam rencana.
Anak Penggembala dan SerigalaTuannya pernah berkata bahwa apabila dia melihat serigala menyerang kawanan dombanya, dia harus berteriak memanggil bantuan, dan orang-orang sekampung akan datang membantunya. Anak gembala itu berpikir bahwa akan terasa lucu apabila dia pura-pura melihat serigala dan berteriak memanggil orang sekampungnya datang untuk membantunya. Dan anak gembala itu sekarang walaupun tidak melihat seekor serigala pun, dia berpura-pura lari ke arah kampungnya dan berteriak sekeras-kerasnya, "Serigala, serigala!"
Seperti yang dia duga, orang-orang kampung yang mendengarnya berteriak, cepat-cepat meninggalkan pekerjaan mereka dan berlari ke arah anak gembala tersebut untuk membantunya. Tetapi yang mereka temukan adalah anak gembala yang tertawa terbahak-bahak karena berhasil menipu orang-orang sekampung.
Beberapa hari kemudian, anak gembala itu kembali berteriak, "Serigala! serigala!", kembali orang-orang kampung yang berlari datang untuk menolongnya, hanya menemukan anak gembala yang tertawa terbahak-bahak kembali.
Pada suatu sore ketika matahari mulai terbenam, seekor serigala benar-benar datang dan menyambar domba yang digembalakan oleh anak gembala tersebut.
Dalam ketakutannya, anak gembala itu berlari ke arah kampung dan berteriak, "Serigala! serigala!" Tetapi walaupun orang-orang sekampung mendengarnya berteriak, mereka tidak datang untuk membantunya. "Dia tidak akan bisa menipu kita lagi," kata mereka.
Serigala itu akhirnya berhasil menerkam dan memakan banyak domba yang digembalakan oleh sang anak gembala, lalu berlari masuk ke dalam hutan kembali.
Pembohong tidak akan pernah di percayai lagi, walaupun saat itu mereka berkata benar.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Kang Santri dan Sayur Ajaib

KANG SANTRI DAN SAYUR AJAIB

Jum'at pagi yang cerah di lingkungan pesantren,para santri sedang
sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Hari jum'at adalah hari yang paling di tunggu-tunggu selama seminggu.
Hari spesial di mana tak ada kegiatan mengaji dan waktu untuk mengibur diri.
Ada yang main sepak bola di lapangan pesantren,ada yang sibuk
menghafal kitab,ada nyuci baju,dan ada juga yang mengisi waktu dengan
nongkrong di depan komplek pesantren sambil bercanda.
Di depan komplek C kamar nomer 6,kang bahlul dkk terlihat sedang sibuk
mengiris sayuran. Mereka sedang masak lauk buat sarapan.
Kelompok di bagi dua grup.
Grup 1 yang terdiri dari kamso,ikhsan,dan wahab bagian memasak nasi.
Mereka sudah terlebih dahulu meluncur ke dapur.
Sedang grup 2 yang terdiri dari kang bahlul,badrun,udin,dan soleh
bagian memasak sayur dan lauk. Anggota grup 2 lebih banyak karena
pekerjaanya memang lebih ribet.

Buat kalangan santri cowok memasak memang termasuk kategori pekerjaan
paling ruwet,pekerjaan yang mestinya bisa di lakukan SATU orang cewek
harus di lakukan dengan sistem gotong royong..
Maklum lah...namanya juga cowok,memasak itu bukan bidang
aslinya..betul? Hehehe....


Setelah sibuk dari tadi iris sana,iris sini,ulek kanan,ulek
kiri..ahirnya bumbu dan sayur yang akan di masak sudah siap.
Kang bahlul dkk pun segera meluncur ke dapur menyusul kloter pertama.

Wajan,tungku,dan nampan pun segera di siapkan.
Dan acara memasak pun di mulai,dengan di iringi sedikit canda tawa
untuk mengisi waktu menunggu sayur matang.

Wajan,tungku,dan nampan pun segera di siapkan.
Dan acara memasak pun di mulai,dengan di iringi sedikit canda tawa
untuk mengisi waktu menunggu sayur matang.

Tak berapa lama,tiba-tiba terdengar pengumuman dari masjid. Kang balul
dkk pun mendengarkan pengumuman itu dengan seksama.

"Assalamu'alaikum wr.wb... Di beritahukan pada semua santri,nanti
tepat pukul 8 di harapkan semua berkumpul.
Akan ada ziarah makam bersama. Bagi yang tidak ikut atau datang
telat,akan mendapat "ta'jir". Demikian pengumuman saya sampaikan.
Wassalamu'alaikum wr.wb..".

Kang bahlul dkk yang mendengar pengumuman itupun segera melihat jam.

" wah..sudah jam 7:45,tinggal 15 menit lagi brow...ayo cepet-cepet
masaknya. Nanti kita gak sempat sarapan lho..". Kata kang bahlul.
" wah...sip kang,sebentar lagi juga mateng..tapi coba sampean icipi
dulu,apa sudah enak belum". Kata soleh.

Kang bahlul pun mengambil sedikit untuk di icip,ternyata rasanya
hambar karena tadi lupa ngasih garam.

" wah...kurang asin ini. Gak ada rasanya,pasti tadi lupa di kasih
garam. Mana waktu sudah mepet banget lagi...
Eh din udin,kamu lari ke kamar sebentar,ambil garam yang ada di
plastik di atas tempat sabun. Cepet ya,soalnya waktu sudah mepet..".
Pinta kang bahlul.

" Baik kang...". Kata si udin yang masih tergolong santri junior
sambil berlari ke kamar.
Sampai di kamar,si udin segera menuju tempat garam sesuai petunjuk.
Ada dua kantong plastik berwarna putih di situ,karena buru-buru
langsung saja dia ambil salah satu tanpa sempat memeriksanya.
Kemudian si udin segera berlari lagi menuju dapur.
Melihat udin berlari dari kejauhan,kang bahlul pun berteriak..

"Din...cepet din...!! Ini sayurnya sudah hampir matang..". Teriak kang bahlul.


Si udin pun mempercepat larinya,setelah sampai...dengan nafas senin
kamis dia langsung menumpahkan isi bungkusan yang dia ambil tadi ke
dalam wajan.
Langsung saja kang bahlul mengaduknya agar meresap sempurna ke dalam masakan.

Tapi keajaiban terjadi...
Kang bahlul dkk terkejut karena sayur yang di aduk kang bahlul jadi berbusa.
Bahkan busanya sampai keluar memenuhi wajan.

"Lho..ini tadi yang kamu ambil apa din?".Tanya kang bahlul bingung.

"Sesuai reques kang,plastik putih di atas tempat sabun...". Jawab udin
tanpa ada rasa salah.

"Tapi kok bisa berbusa gini...kamu yakin gak salah ambil?".Tanya kang
bahlul memastikan.

"100% yakin kang..plastik putih di atas tempat sabun". Jawab udin mantab.

Melihat kehebohan yang terjadi di grup 2,anggota grup 1 pun datang
untuk mencari tahu apa yang terjadi.
Nah...ahirnya masalahnya clear setelah si kamso cerita,kalau tadi pagi
sehabis subuh dia nyuci. Dan sisa deterjen dia bungkus plastik dan di
taruh di atas tempat sabun. Tepat di sebelah bungkusan garam.
Jadi ceritanya si udin salah ngambil. Tapi mau nyalahin siapa juga?
Baik kang bahlul ataupun udin gak tau kalau si kamso juga naruh
bungkusan sabun di situ.
Jadi terpaksa....pagi itu kang bahlul dkk harus makan nasi putih saja.
Sedangkan sayurnya gak lagi bisa di makan,karena telah menjadi sayur
ajaib yang berbusa...hehehe

Nah adek-adek,hikmah yang bisa kita petik adalah...

Jangan suka terburu-buru dalam melakukan suatu pekerjaan.
Karena hasilnya pasti akan kurang maksimal dan rawan dengan berbagai
kesalahan..oke? Hehehe... :D

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Dongeng Anak

Putri Bulan


lady_in_the_moon_poster-rfff92d8bde16431c81aea2176070645a_ix6_8byvr_216Suatu hari, salah satu teman Hou I menceritakan tentang “Pil Abadi” Hou I langsung mengirim utusannya untuk mendapatkan pil tersebut untuknya dari Ratu Barat.
Sang Ratu tinggal sendirian di atas sebuah gunung yang tinggi. Dia sangat jelek, giginya panjang dan tajam seperti harimau, dia juga memiliki sembilan buah ekor. Dia menghabiskan waktu membuat obat dari rumput, daun dan bunga. Pada awalnya, dia tidak ingin memberikan pil itu pada hamba Hou I. Ketika ia mengatakan siapa tuannya itu, ia menjadi takut. Dia cepat menyerahkan pil tersebut kepadanya.
“Katakan pada majikanmu bahwa pil ini sangat kuat?” Katanya. “Dia tidak boleh memakannya pada saat bulan purnama. Jika dia melakukannya, dia akan terbang langsung ke bulan.”
Hou I sangat senang mendapatkan pil tersebut. Istrinya menyimpannya di sebuah lemari di kamarnya. Suatu malam, saat dia menatap bulan purnama, ia tiba-tiba memutuskan untuk memakan pil tersebut. Tubuhnya terasa menjadi ringan dan injakannya meninggalkan tanah. Dia mulai mengambang di langit menuju bulan.
Ketika suaminya melihat kejadian tersebut, ia mencoba untuk menjatuhkannya dengan busur dan anak panah. Tapi dia sudah terlalu tinggi. Dalam waktu singkat, dia mendarat di bulan. Dia merasa sangat dingin dan kesepian. Dia pun memikirkan suaminya setiap hari dan ingin kembali padanya. Tapi tidak ada jalan bagi dia untuk melakukannya. Akhirnya, ia membangun sebuah rumah kecil di mana dia tinggal sendirian.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS